UMB Campuspreneur from Lokal to Global Asah Kemampuan Mahasiswa di Bidang Ekspor

Campuspreneur Tasikmalaya
Acara kuliah umum UMB Campuspreneur from Lokal to Global, yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bekerja sama dengan Anggota DPR RI Komisi VI, Muhammad Husein Fadlulloh, B.Bus., M.M., M.B.A, Sabtu (7/11/2026). (dok. UMB)
0 Komentar

Langkah pertama menuju global, kata Yusuf, tidak harus dimulai dengan membuka kantor megah di New York, London, atau Tokyo. Langkah pertama adalah menyelesaikan masalah di sekitar kita dengan tuntas. “Percikannya ada di Tasikmalaya, tetapi apinya kini ada di tangan kalian semua. Lokal punya, dunia suka. Mari kita mulai hari ini,” tegasnya yang disambut riuh tepuk tangan peserta.

Kuliah Umum yang juga dihadiri oleh Anggota DPR RI dari Komisi VI, Muhammad Husein Fadlulloh, B.Bus., M.M., M.B.A., sangat mendukung terhadap kemandirian mahasiswa untuk menjadi entrepreneur yang dirintis sejak dari kuliah. Husein juga memberikan motivasi kepada para mahasiswa dengan bercerita pengalaman dirinya yang sudah mulai belajar usaha sejak dari kuliah.

“Dulu saya juga mulai belajar usaha jualan gelang dan beberapa barang lainnya, saat masih kuliah. Sehingga saat ini pun saya masih memiliki usaha, di mana pun kita berkiprah, mengabdi, tidak ada salahnya sambil berusaha,” ungkapnya memberikan motivasi.

Baca Juga:STC MORO UDANG: Vespa Tua Menjemput Udang Segar di CikalongPohon Tumbang di Jalan Cinehel Timpa Dua Kios, Atap 15 Bangunan Ikut Rusak

Husein memiliki harapan besar, akan lahir entrepreuneur-entrepreuneur baru dari Kampus Universitas Mayasari Bakti yang memang lahir dari embrio besar Mayasari Group.

Salah satu pemateri kulih umm adalah akademisi yang juga dosen Universitas Mayasari Bakti, Laela Susanto, S.I.P., M.Par., Laela menyoroti data mengenai ketimpangan nilai logistik produk lokal yang belum tersentuh hilirisasi optimal. Tasikmalaya memiliki sektor pertanian dan kriya yang sangat kaya, namun kesejahteraan petani dan pengrajin belum dapat merasakannya.

Sebagai contoh nyata, buah manggis asal Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, selama ini hanya dihargai sekitar Rp3.500 hingga Rp5.000 per kilogram di tingkat petani lokal. Namun, ketika buah yang sama berhasil menembus standardisasi ekspor dan mendarat di pasar internasional, harganya melonjak drastis menjadi Rp30.000 per kilogram. Ada selisih harga hingga 6 hingga 8 kali lipat.

“Selisih harga sejatinya adalah ruang bisnis yang luas bagi mahasiswa. Di sinilah peran campuspreneur masuk melakukan sortir yang ketat, memperbaiki penanganan pasca panen, merancang kemasan modern, menjaga mutu, dan membuka akses langsung ke pasar global,” jelasnya saat memberikan materi.

0 Komentar