TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kenaikan harga jagung yang menjadi bahan baku utama pakan ternak kian membebani peternak ayam petelur. Di tengah tingginya biaya produksi, mereka justru harus menghadapi harga telur yang relatif murah. Kondisi tersebut membuat keuntungan peternak semakin tergerus.
Pengusaha peternakan ayam petelur yang juga mantan anggota DPRD Kota Tasikmalaya, H Muslim, mengatakan, harga jagung di tingkat bandar saat ini berkisar Rp8.100 hingga Rp8.500 per kilogram. Kenaikan tersebut dirasakan peternak sejak akhir September 2026.
Ironisnya, kenaikan biaya pakan tidak diimbangi dengan harga jual telur. Akibatnya, peternak berada dalam posisi sulit karena biaya produksi terus meningkat, sementara pendapatan dari penjualan telur belum mampu menutup beban usaha secara optimal. “Peternak ayam petelur sekarang menjerit. Harga jagung mahal, sementara harga telur sangat murah. Ini jelas memberatkan peternak,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut kepada Radar, Kamis (5/11/2026).
Baca Juga:Cemburu Lihat Kekasih Bersama Perempuan Lain, Warga Purbaratu Lompat dari Jembatan Jalan Lingtar TasikmalayaRawan Dipaksakan! Seleksi Pimpinan Baznas Kota Tasikmalaya Berpotensi Seperti Dewas
Menurut dia, persoalan lainnya adalah belum adanya kepastian intervensi pemerintah untuk membantu peternak, khususnya terkait ketersediaan jagung dengan harga terjangkau.
Ia menyoroti janji Perum Bulog yang sebelumnya menyampaikan rencana penyaluran jagung bersubsidi bagi peternak. Namun, hingga kini, menurut dia, realisasi program tersebut belum dirasakan para peternak. “Bulog katanya akan menyediakan jagung subsidi untuk peternak, tetapi sampai sekarang belum jelas realisasinya. Jangan hanya sebatas janji,” tegasnya.
H Muslim juga mempertanyakan mekanisme pembentukan harga telur yang dinilainya masih mengacu pada harga dari Blitar, Jawa Timur. Padahal, Jawa Barat memiliki potensi peternakan ayam petelur yang cukup besar dan semestinya mampu memperkuat kemandirian pasar. “Kenapa harga telur masih diatur harga Blitar? Aneh, Jawa Barat ini kenapa tidak bisa mandiri. Padahal peternaknya juga banyak,” ungkapnya.
Ia pun menyayangkan belum adanya respons konkret dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap keluhan para peternak. Menurutnya, pemerintah daerah maupun pusat semestinya hadir memberikan solusi, terutama ketika peternak menghadapi tekanan biaya produksi dan rendahnya harga jual.
H Muslim berharap pemerintah tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Kepastian pasokan jagung dengan harga terjangkau serta kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan harga telur dinilai penting agar usaha peternakan tetap bertahan. “Jangan sampai peternak terus dibiarkan menanggung beban sendiri. Pemerintah harus hadir dan memberikan solusi nyata,” pungkasnya.(Firgiawan)
