Tiket Pesawat Ditaksir Rp 1,2 Juta, Rute Jakarta-Tasik Punya Sejarah Tak Mulus

Penerbangan Jakarta-Tasikmalaya
Pesawat Rimbun Air saat mendarat di Bandara Wiriadinata Tasikmalaya pada Sabtu (31/10/2026).
0 Komentar

Tujuannya jelas. Agar tingkat keterisian penumpang atau occupancy tinggi. Jangan sampai pesawatnya bagus, bandaranya siap, tetapi penumpangnya berpikir berkali-kali sebelum membeli tiket. Rute penerbangan Tasikmalaya–Jakarta punya sejarah yang tidak selalu mulus. Pernah dibuka. Pernah ramai diperbincangkan. Tetapi kemudian berhenti beroperasi.

Itulah yang harus menjadi pelajaran. Penerbangan bukan sekadar seremoni kedatangan pesawat. Bukan pula sekadar foto bersama di apron bandara.

Bisnis penerbangan membutuhkan penumpang yang konsisten. Pengusaha membutuhkan kepastian jadwal. Masyarakat membutuhkan harga yang terjangkau. Maskapai membutuhkan tingkat keterisian kursi yang sehat.

Baca Juga:BREAKING! Mantan Kapolri Jadi Tersangka: Sadap Presiden, Pejabat Negara, Tokoh Politik, Media, Ormas, dan LSMDosen Unsil Kenalkan Bahasa dan Budaya Indonesia di Thailand

Ketiganya harus bertemu. Kalau tarif terlalu mahal, penumpang bisa kembali memilih mobil, bus, atau kereta dari kota lain. Kalau jadwal tidak pasti, pengusaha juga sulit menjadikan pesawat sebagai sarana perjalanan bisnis. Sementara itu, operasional pesawat tidak bisa hanya mengandalkan antusiasme pada hari pertama.

Sebagai gambaran awal, dengan mempertimbangkan sejarah harga tiket sebelumnya dan karakter penerbangan jarak dekat menggunakan ATR 72, kisaran Rp600.000 sampai Rp1,2 juta bisa menjadi bahan simulasi.

Namun angka itu bukan tarif resmi Rimbun Air dan bukan pula kepastian Tarif Batas Atas untuk rute tersebut. Besaran tarif nantinya harus mengacu pada ketentuan Kementerian Perhubungan, termasuk klasifikasi rute, komponen biaya, dan regulasi yang berlaku.

Justru di sinilah tantangannya. Kalau bisa dibuat di bawah Rp600.000, tentu akan lebih menarik bagi masyarakat. Tetapi maskapai juga harus menghitung kelayakan operasionalnya. Mencari titik tengah antara kepentingan bisnis maskapai dan kemampuan masyarakat bukan pekerjaan sederhana. Tasikmalaya membutuhkan penerbangan yang tidak hanya datang, tetapi juga bertahan.

Sebab, yang diinginkan masyarakat bukan sekadar melihat pesawat ATR 72-600 mendarat di Wiriadinata. Mereka ingin bisa membeli tiketnya. Terbang ke Jakarta. Pulang ke Tasikmalaya. Dan yang paling penting: tidak perlu bertanya-tanya lagi kapan pesawat itu berhenti beroperasi. Jangan sampai Senin dibuka, Kamis sudah tutup. Pesawatnya boleh terbang tinggi. Harga tiketnya jangan ikut terbang terlalu tinggi.

Sementara itu, Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin mengaku mendukung wacana reaktivasi Bandara Wiriadinata. Bentuknya merupakan sinergi antarpemerintah daerah (G to G). Seperti melakukan pembahasan dan kolaborasi konkret bersama Pemerintah Kota Tasikmalaya serta jaringan diaspora Tasikmalaya untuk mendorong konektivitas transportasi udara di kawasan Priangan Timur.

0 Komentar