Jalan HZ Mustofa Tasikmalaya Mendadak Jadi “Panggung Seni Budaya”

Jalan hz mustofa, aksi drama teatrikal
Sekelompok seniman dan budayawan melakukan aksi teatrikal di Jalan HZ Mustofa Kota Tasikmalaya, Senin (2/11/2026). (Rangga Jatnika/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID–Jalan HZ Mustofa Kota Tasikmalaya mendadak jadi panggung seni teatrikal para seniman dan budayawan, Senin (2/11/2026). Penampilan mereka menjadi tontonan warga dan pengendara yang melintas di jalur lalu lintas pusat kota itu.

Pantauan Radar, di lokasi terpampang spanduk aspirasi bertuliskan “Masyarakat Buleud Melawan”. Menunjukkan bahwa aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan, sasarannya tentu pemerintah.

Berbagai pertunjukan pun ditampilkan dari mulai drama teatrikal, melukis yang diiringi musik dan ditemani aksi ibu-ibu memasak di tengah jalan. Para pengendara pun sesekali sempat tertahan di tengah aksi teatrikal para seniman sehingga petugas kepolisian dituntut siaga melakukan gatur lantas.

Baca Juga:Polemik Bantuan Rumah untuk Nana Kustaman, Gubuk Lansia di TasikmalayaSetan Pun Butuh Tempat Nongkrong!

Pendiri Komunitas Cermin Ashmansyah Timutiah menerangkan bahwa aksi tersebut sebagai bentuk protes dan perlawanan seniman dan budayawan terhadap pemerintah. Berkaitan dengan rencana pembongkaran kawasan eks pemda yang selama ini dimanfaatkan sebagai ruang kreasi seni. “Ini akan menghilangkan ruang kreativitas,” ungkap pria yang akrab disapa Acong itu kepada Radar.

Berhubung aset tersebut di bawah pengelolaan Pemkab Tasikmalaya, pihaknya sudah melayangkan audiensi untuk bertemu bupati. Namun hal itu tidak kunjung mendapat respons sehingga aksi teatrikal tersebut dilakukan. “Setidaknya, pemerintah bisa menyediakan ruang lain untuk kreativitas,” ujarnya.

Sebagaimana wacana yang muncul, pembongkaran eks pemda tersebut akan dilaksanakan pada Selasa 3 November 2026. Menyikapi itu, dia dan rekan-rekannya akan berupaya mempertahankan ruang kreativitas untuk para seniman dan budayawan. “Sebisa mungkin kami akan bertahan,” tuturnya.

Dalam aksi teatrikal tersebut, salah satu budayawan Amang Bolon melakukan monolog sebagai pesan untuk pemerintah kota dan kabupaten yang dinilai telah zalim. Karena telah menggusur spirit budayawan yang ikut membangun nilai-nilai seni dan kearifan lokal di masyarakat.

“Mereka cuma berpihak kepada orang-orang kaya yang punya mobil difasilitasi untuk parkir, teman-teman kita budayawan, seniman, anak-anak miskin, anak-anak yang tidak punya biaya untuk berkarya dianiaya,” ungkapnya.(Rangga Jatnika)

0 Komentar