Festival Lampu Lumiland Nyalakan Pertengkaran, Vendor Sebut Pemkot Tasikmalaya Sebagai Penyelenggara

Festival lampu lumiland dadaha
Gemerlap lampu di Event Lumiland Dadaha menjadi bagian dari kemeriahan Hari Jadi Kota Tasikmalaya.
0 Komentar

Sementara itu, Komisari PT Lumiland Wonderfull Indonesia Eko Ardi Nugraha menerangkan bahwa rencana awal pihaknya menyelenggarakan event tersebut di bulan Agustus. Murni usaha tanpa ada kaitannya dengan perayaan HUT Kota Tasikmalaya. “Tapi dari dinas (Disporabudpar) minta supaya diselenggarakannya Oktober karena pemerintah tidak punya anggaran HUT Kota,” ungkapnya saat dihubungi Radar.

Dari kesepakatan itu, penyelenggara event menjadi pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Disporabudpar. Maka dari itu berbagai ketentuan dikomunikasikan serta mendapat persetujuan dinas sebagai penyelenggara, dari mulai waktu pelaksanaan termasuk penetapan tarif bahkan mencantumkan logo HUT Kota Tasikmalaya pada tiket. “Kita hanya vendor, penyelenggaranya dinas, kalau ini event kita ya harusnya di bulan Agustus,” tuturnya.

Meskipun diselenggarakan pemerintah, segala biaya dan operasional event tersebut tidak menggunakan APBD. Maka dari itu pihaknya menetapkan tiket berbayar sebagai sumber pembiayaan dan keuntungan.

Baca Juga:BPK Bongkar Hitungan SiLPA Pemkot Tasikmalaya!Penataan Dadaha Kurang Progresif, Pemkot Tasikmalaya Masih Siapkan Masterplan

Eko pun mengatakan bahwa sebagai penyelenggara event yang profesional, pihaknya tetap menempuh berbagai mekanisme sesuai aturan yang berlaku. Dari mulai proses perizinan, pemanfaatan tempat, termasuk berkontribusi untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Pajaknya juga kita bayar,” ucapnya.

Mengenai kontroversi yang muncul, dari mulai harga tiket, pembagian tiket gratis yang dianggap membebani orang tua, pihaknya menekankan tidak ada maksud untuk memaksa. Untuk para orang tua yang merasa berat karena harus membeli tiket untuk mendampingi anaknya, itu dikembalikan lagi kepada mereka. “Tidak digunakan pun tidak apa-apa, jangan sampai merasa dipaksa,” ujarnya.

Disinggung soal anaknya yang memaksa karena ada tiket gratis, menurutnya orang tua bisa mencari solusi alternatif. Bisa didampingi oleh guru atau orang tua lain yang memang mampu membeli tiket. “Sehingga orang tua tidak perlu beli tiket,” katanya.

Namun mengenai harga tiket, pihaknya memang melakukan penyesuaian setelah mendapat berbagai masukan. Sehingga ada pengurangan harga senilai Rp 5,000 baik untuk dewasa maupun anak. (Rangga Jatnika)

0 Komentar