Di sinilah masukan publik menemukan maknanya. Publik bukan tim sukses. Masukan publik juga bukan perlombaan mengumpulkan kalimat pujian.
Kalau pernah bekerja bersama Hotum, ceritakan bagaimana ia mengambil keputusan. Kalau mengetahui kontribusinya dalam organisasi, sampaikan apa yang benar-benar ia kerjakan. Kalau punya catatan yang relevan, sampaikan pula secara objektif.
Jangan sampai kolom masukan publik hanya menjadi tempat menumpuk dukungan. Banyak pujian belum tentu berarti banyak bukti.
Baca Juga:Pelayanan Publik Pemerintah Kota Tasikmalaya Dinilai Baik, Nilainya Tembus 81,669 PoinAtap Panggung Perayaan HUT Kota Tasikmalaya di Kecamatan Cihideung Roboh Tertiup Angin
Sebaliknya, kritik pun tidak otomatis membuktikan seseorang tidak layak. Yang diperlukan adalah penilaian yang jujur, relevan, dan bisa dipertanggungjawabkan.
Sebab, jabatan publik bukan perkara siapa yang paling banyak dikenal. Bukan pula siapa yang paling ramai mendapat dukungan.
Yang lebih penting adalah siapa yang paling siap menjalankan amanah. Hotum telah meminta doa dan dukungan dalam ikhtiarnya mengikuti seleksi ini. Itu wajar. Setiap orang yang mengikuti seleksi tentu berharap mendapatkan hasil terbaik.
Namun, hasil akhirnya tetap berada di tangan panitia seleksi sesuai mekanisme yang berlaku. Dan siapa pun yang kelak terpilih, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah pengumuman selesai.
Bagi penyandang disabilitas, nama baru di jajaran komisioner bukanlah tujuan akhir. Mereka menunggu sesuatu yang lebih konkret: akses yang lebih terbuka, pelayanan yang lebih adil, kesempatan kerja yang lebih setara, dan hak-hak yang benar-benar terlindungi.
Sebab, keberhasilan seorang komisioner tidak diukur dari tinggi kursi yang didudukinya. Melainkan dari seberapa banyak hambatan yang berhasil disingkirkannya.
Kursi boleh berganti penghuni. Tetapi ukuran keberhasilannya tetap sama: apakah mereka yang selama ini menghadapi hambatan akhirnya bisa berdiri setara. (red)
