Program tersebut turut diarahkan untuk mendorong regenerasi petani muda agar sektor pertanian tetap memiliki penerus yang kompeten.
“Selain itu, fasilitas ini memfasilitasi program pemagangan bagi siswa sekolah maupun mahasiswa, serta paket edukasi pertanian yang terintegrasi dengan potensi pariwisata daerah di Kabupaten Pangandaran,” terang Kustiwa.
Keberadaan pusat pelatihan ini juga diharapkan mempertemukan inovasi akademis dari perguruan tinggi dengan kearifan lokal yang selama ini berkembang di kalangan petani.
Baca Juga:Kemiskinan Kota Tasikmalaya Turun ke 9,34 Persen, Viman: Berkat Kerja Kompak Bersama Seluruh PihakListriknya Terang, PAD-nya Remang-Remang
Kolaborasi tersebut menjadi penting untuk memperluas penerapan pertanian organik yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
Semangat itu sejalan dengan hasil konsolidasi nasional RUA IX AOI yang menekankan pentingnya kerja sama berbagai pihak dalam memperkuat praktik pertanian organik dan membangun sistem pangan yang lebih tangguh.
Kustiwa menegaskan, peringatan Hari Pangan Sedunia semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan.
Momentum tersebut perlu menjadi dorongan untuk membenahi sistem pangan agar lebih berkelanjutan dan tidak mengabaikan kelestarian lingkungan.
“Hari Pangan Sedunia tahun ini adalah momentum bagi kita untuk berhenti bergantung pada sistem pangan konvensional yang merusak lingkungan. P4S ini adalah langkah nyata JAMTANI untuk membangun kedaulatan pangan, dimulai dari kita para petani yang peduli,” tegasnya.
Dengan hadirnya P4S CLC, upaya memperkuat ketahanan pangan diharapkan dimulai dari peningkatan kapasitas petani.
Sebab, ketika iklim tak lagi mudah ditebak, pengetahuan dan kesiapan di tingkat lahan menjadi bekal penting agar ancaman gagal panen tidak terus berulang. (deni nurdiansah)
