Meski kewajiban meningkat, Milan menilai neracanya tetap solid. Per 30 Juni 2026, klub memiliki ekuitas sebesar €176,4 juta atau sekitar Rp3,53 triliun.
Manajemen menyebut fondasi keuangan yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir masih memberi ruang untuk menjalankan strategi pertumbuhan jangka panjang.
Nilai Brand Milan Tembus Rp10,28 Triliun
Di tengah laporan kerugian, nilai komersial Milan justru menunjukkan pertumbuhan.
Menurut Brand Finance, nilai brand Milan pada 2026 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah klub, yakni €514 juta atau sekitar Rp10,28 triliun.
Baca Juga:Rating Esposito Bersaudara usai Bawa Italia Bantai Turki 4-1Italia Hajar Turki 4-1, Sabatini: Kami Seperti Tim Juara Piala Dunia
Nilai tersebut meningkat 28 persen dalam setahun. Milan juga tercatat sebagai klub sepak bola dengan pertumbuhan nilai brand terbesar di dunia sejak 2021.
Bagi klub, peningkatan itu menjadi modal penting untuk memperluas pendapatan komersial dalam beberapa tahun mendatang.
Sementara itu, Milan menegaskan kerugian pada tahun buku 2025/26 tidak mengubah strategi jangka panjang klub.
RedBird tetap menerapkan model owner-operator, yang memadukan investasi jangka panjang dengan keterlibatan langsung dalam operasional klub.
Pada periode yang sama, Massimo Calvelli ditunjuk sebagai Chief Executive Officer Milan. Ia tetap menjalankan perannya sebagai Operating Partner di RedBird.
Klub menyatakan investasi tetap diarahkan ke sektor olahraga dan pengembangan bisnis. Salah satu agenda terbesar ialah pembangunan stadion baru di Milan.
Proyek stadion baru memasuki tahap penting pada tahun buku tersebut.
Pada 5 November 2025, Milan dan Inter menyelesaikan akuisisi Grande Funzione Urbana San Siro, yang mencakup Stadion Giuseppe Meazza beserta area di sekitarnya.
Baca Juga:Daftar 20 Pemain Italia dengan Gaji Tertinggi: Verratti Dibayar Rp600 Miliar, Dimarco Masuk 10 BesarEranio Sarankan Amorim Sederhanakan Peran Luka Modric: Dia Tak Cocok Bermain dengan Dua Gelandang
Bagi Milan, stadion baru bukan sekadar fasilitas pertandingan. Klub menilai proyek itu dapat memperkuat profil ekonomi perusahaan sekaligus meningkatkan kapasitas investasi untuk mendukung pertumbuhan dan daya saing olahraga.
Laporan keuangan musim 2025/26 pun memperlihatkan dua kondisi yang berlawanan.
Milan harus menanggung kerugian Rp480 miliar setelah tiga musim berturut-turut mencatatkan keuntungan. Absennya dari kompetisi Eropa menjadi pukulan terbesar terhadap pendapatan klub.
Namun, Milan tetap membukukan pendapatan sekitar Rp9,29 triliun, pendapatan sponsorship lebih dari Rp2 triliun, nilai brand mencapai Rp10,28 triliun, dan ekuitas sekitar Rp3,53 triliun.
Milan kini memasuki fase penting: memulihkan performa olahraga sekaligus mempertahankan fondasi bisnis yang dibangun RedBird.
