Ia pun berharap kejadian tersebut tidak melahirkan stigma bahwa Stadion Wiradadaha merupakan tempat yang keramat.
“Supaya tidak ada stigma. Oleh karena itu hari ini kita buktikan bahwa dengan olahraga, dengan sepak bola sebetulnya sehat, tapi urusan takdir kita tidak ada yang tahu,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan mengatakan, laga amal tersebut merupakan bentuk solidaritas pemerintah bersama insan olahraga dan masyarakat terhadap keluarga Ahid.
Baca Juga:Dugaan Bullying Siswa SMA di Tasikmalaya Jangan Tutupi dengan Damai-damaian, Usut MenyeluruhCegah Aksi Kelompok Bermotor, Tim Maung Galunggung Patroli Titik Rawan Kota Tasikmalaya
Ia mengapresiasi keputusan panitia dan peserta yang menghentikan turnamen setelah kejadian tersebut.
Selain itu, hadiah yang sebelumnya disiapkan untuk kompetisi juga akan dibagikan kepada seluruh tim dan sebagian di antaranya disumbangkan kepada keluarga almarhum.
“Sebagian dari hadiah yang sudah direncanakan itu akan disumbangkan kepada keluarga almarhum,” tutur Viman.
Menurutnya, kepergian Ahid tidak seharusnya membuat semangat olahraga di Kota Tasikmalaya meredup.
Sebaliknya, momentum tersebut harus menjadi pengingat bahwa olahraga juga dapat menjadi ruang untuk membangun solidaritas dan kepedulian sosial.
Ia berharap sepak bola Kota Tasikmalaya terus berkembang dan mampu melahirkan prestasi lebih baik ke depan.
“Kepergian almarhum membawa semangat kepada kita semua bahwa sepak bola di Kota Tasikmalaya itu harus terus berlanjut,” tambahnya.
Baca Juga:Kemarau Belum Usai, SDN 2 Kersanagara Kota Tasikmalaya Ajak Siswa Menengadah Lewat Salat IstisqaRoket Indonesia Gandeng Everpro, Layanan Kurir Instan JNE Bidik Penguatan UMKM lewat Teknologi
Viman juga menilai kegiatan olahraga tidak sebatas persoalan menang dan kalah. Di dalamnya terdapat ruang silaturahmi, kebersamaan serta kepedulian terhadap sesama.
Laga amal itu pun menjadi bentuk sederhana dari semangat tersebut. Lapangan kembali digunakan, tetapi kali ini bukan sekadar untuk mengejar skor.
Sebelumnya, Ahid Ali Hasbi, warga Negla Kaler, Kelurahan Setiajaya, Kecamatan Cibeureum, mendadak ambruk saat mengikuti pertandingan Piala Ketua PSSI Kota Tasikmalaya Antar Kecamatan U-40 di Stadion Wiradadaha, Minggu (20/9/2026).
Ahid kemudian dibawa ke RSUD dr Soekardjo untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
PSSI Kota Tasikmalaya kemudian menghentikan kompetisi atas kesepakatan bersama para peserta.
Kini, kompetisi yang semula menjadi arena adu kemampuan antarkecamatan itu meninggalkan pesan berbeda. Sepak bola tetap bergulir, tetapi kali ini skor pertandingan bukan menjadi satu-satunya ukuran.
