Ganjar menilai lembaga keuangan formal tidak harus meniru seluruh mekanisme pinjol, tetapi perlu memperbaiki kecepatan layanan dan kesesuaian produk dengan kebutuhan masyarakat. Kebutuhan dana darurat dalam jumlah relatif kecil, misalnya, membutuhkan produk yang berbeda dari pembiayaan dengan plafon besar dan persyaratan yang lebih kompleks.
Salah satu bentuk yang dapat dikembangkan adalah pembiayaan melalui koperasi guru dengan plafon terbatas, proses yang lebih cepat, biaya yang transparan, serta cicilan yang disesuaikan dengan kemampuan anggota. Skema semacam itu juga dapat disertai pendampingan agar pembiayaan tidak justru menambah beban rumah tangga.
Kebutuhan memperluas pilihan pembiayaan tersebut berlangsung ketika penggunaan layanan pinjaman daring terus tumbuh. OJK mencatat outstanding pembiayaan pinjaman daring pada Juli 2026 mencapai Rp105,63 triliun, tumbuh 24,76 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, tingkat wanprestasi 90 hari atau TWP90 tercatat 4,32 persen.
Baca Juga:Telkomsel Dorong Guru Indonesia Kuasai AI, Dua Guru Jawa Barat Raih Predikat Terbaik Terpujilah GURU 2026DOKU Tunjuk Himelda Renuat Jadi CEO Baru, Bersiap Perluas Layanan Pembayaran Digital Bersama Antom
Menurut Ganjar, persoalan utang guru pada akhirnya tidak berhenti pada kondisi keuangan pribadi. Ketika sebagian besar pendapatan terserap untuk membayar cicilan, kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga ikut terpengaruh.
Kondisi tersebut juga dapat membatasi ruang guru untuk membiayai pengembangan dirinya, seperti mengikuti pelatihan, membeli buku atau perangkat pendukung pembelajaran, maupun memenuhi kebutuhan lain yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi.
Karena itu, Ganjar melihat penanganan persoalan pinjol di kalangan guru tidak cukup hanya dengan mendorong kehati-hatian dalam berutang. Penguatan literasi dan disiplin keuangan perlu berjalan bersama dengan upaya memperbaiki kesejahteraan, membangun dana darurat, serta menyediakan pilihan pembiayaan yang lebih sehat dan sesuai kemampuan.
“Jangan sampai guru yang seharusnya mendidik generasi bangsa justru menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk mengejar cicilan,” pungkasnya. (Fitriah Widayanti)
