CIAMIS, RADARTASIK.ID – Rumah Batik Jalatrang Creative di Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, terus mengembangkan batik sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya Tatar Galuh. Pengembangan tersebut dilakukan melalui produksi batik, pelatihan, hingga membuka kelas membatik bagi wisatawan di kawasan Wisata Edukasi Kampung Bungur Jalatrang.
Wisata Edukasi Kampung Bungur Jalatrang tidak hanya menawarkan kerajinan kreatif, tetapi juga permainan tradisional dan pengalaman belajar pertanian. Pengunjung dapat mengikuti kelas membatik di Rumah Batik Jalatrang Creative, sekaligus membawa pulang hasil karya yang dibuat sendiri.
Ketua Rumah Batik Jalatrang Creative Elsa Nuari Hardiana mengatakan, Desa Jalatrang kini mengembangkan batik dengan motif Ciamisan dan motif khas Jalatrang, seperti kembang bungur, gagah jurit, kareo, dan onom Galuh. Pengembangan tersebut berawal dari keikutsertaan masyarakat dalam pelatihan membatik yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Ciamis pada 2023.
Baca Juga:Bangun Sinergi dengan KPAID, Kemenag Kabupaten Tasikmalaya Siapkan Formulasi Tangani Bullying di MadrasahPotensi Zakat Dapur MBG di Kabupaten Tasikmalaya Tembus Rp 4,5 Miliar, Ini Kata BAZNAS
Dukungan Dekranasda kemudian mendorong masyarakat Jalatrang untuk melanjutkan proses belajar membatik dan mempertahankan warisan budaya tersebut.
“Karena kita ingin ada keberlanjutan belajar membatik dari DEKRANASDA, lalu meminta bantuan ke Pemerintah Desa Jalatrang. Alhamdulillah di support dengan membangun rumah produksi dan memanggil narasumber dari pengrajin Rukun Batik di Ciamis, untuk memberdayakan masyarakat Jalatrang belajar membatik,“ katanya kepada Radar saat mengikuti Festival Literasi di halaman Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Ciamis, Selasa (22/9/2026).
Sejak mulai mengembangkan kerajinan batik, Rumah Batik Jalatrang Creative rutin menggelar pelatihan setiap tahun. Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus menambah jumlah pengrajin, terutama dalam proses pewarnaan dan pengecapan.
Saat ini, proses produksi masih melibatkan dua pengrajin dari Rukun Batik Ciamis. Sementara pengrajin yang berasal dari masyarakat Desa Jalatrang berjumlah lima orang. Regenerasi menjadi salah satu kebutuhan agar kemampuan produksi dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat setempat.
“Misalnya ada pesanan untuk mengecap dan pewarnaan harus ke rumah rukun batik. Kalau sudah dilatih dan bisa kan nantinya dapat regenerasi,“ ujarnya.
Pengembangan Batik Jalatrang kemudian mendapat dukungan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tasikmalaya. Dukungan tersebut mencakup bantuan perlengkapan membatik serta peningkatan kapasitas pengrajin.
