GARUT, RADARTASIK.ID – Musim kemarau di Kabupaten Garut sudah mulai terasa dampaknya. Selain banyak masyarakat yang kesulitan air bersih, di beberapa wilayah juga mulai banyak bencana kebakaran lahan atau hutan.
Salah satu wilayah yang rawan terjadinya kebakaran pada musim kemarau adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasirbajing di Kecamatan Banyuresmi.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membakar sampah, terutama pembakaran daun kering di area terbuka maupun kawasan pertanian.
Baca Juga:Penerangan Jalan Umum Mati, Jalur RTA Prawira Adiningrat Tasikmalaya Dinilai Rawan KecelakaanSiap-Siap! Bakal Ada Mudik Gratis di Garut, Segini Kuota yang Tersedia
Kebiasaan ini dinilai berpotensi memicu terjadinya kebakaran besar, khususnya di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Garut Jujun Juansyah meminta agar warga tidak menganggap sepele aktivitas pembakaran sampah dan sisa-sisa tanaman yang kerap ditinggalkan begitu saja tanpa pengawasan.
“Jangan sekali-kali membakar sampah ya. Kadang-kadang sekarang banyak daun kering yang langsung dibakar,” ucapnya, Kamis 23 Juli 2026.
Ia mencontohkan, petani yang sering membakar dedaunan atau rumput di ladang atau kebun. Hal tersebut berpotensi memicu kebakaran saat musim kemarau.
Jujun menjelaskan, percikan serta abu sisa pembakaran yang tertiup angin dapat melayang hingga ke area TPA.
Mengingat TPA menyimpan tumpukan sampah yang mengandung gas metana tinggi, percikan abu sekecil apa pun sangat rawan menyulut kobaran api.
“Debu dan abunya itu kalau terbang dekat area TPA sangat berpotensi (memicu kebakaran),” katanya.
Baca Juga:Destinasi Wisata di Garut Ini Masih Jarang Orang Tahu, Ini Daftar dan LokasinyaJerit Buruh di Garut yang Terancam Kena PHK Massal Usai Pabrik Bulu Mata Tiba Tiba Tutup
Pihaknya berharap masyarakat dan para petani dapat lebih bijak dalam mengelola sampah organik maupun daun-daun kering. Misalnya dengan cara dikomposkan, daripada dibakar. Demi menjaga keselamatan lingkungan bersama. (Agi Sugiana)
