TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sore itu tidak ada suasana formal. Tidak ada meja panjang berlapis kain hijau. Tidak ada pidato berlembar-lembar.
Yang ada justru sebuah joglo di kawasan Grand Mutiara, Indihiang, Kota Tasikmalaya. Joglo itu milik Ketua DPD PAN Kota Tasikmalaya, H Budi Mahmud Saputra.
Di sana sejumlah anak muda berkumpul. Ada aktivis organisasi. Ada pegiat komunitas. Ada tokoh muda dari berbagai latar belakang.
Baca Juga:Ekonomi Didongkrak Naik Gigi, Ratusan Koperasi Merah Putih di Tasikmalaya Dibekali Armada OperasionalKurban Hidup Lagi di SMPN 4 Tasikmalaya, Siswa Belajar Berbagi Lewat 1 Sapi dan 3 Domba
Mereka tidak sedang menghadiri rapat partai. Mereka sedang mengisi sore. Dengan diskusi. Dengan gagasan. Dengan secangkir kopi. Dan tentu saja dengan hidangan yang membuat suasana semakin akrab.
Ada tahu goreng hangat. Ada aneka makanan kukusan. Ada sate hasil kurban yang masih terasa aroma bakarnya.Kopi pun tersedia dalam berbagai merek. Tinggal pilih sesuai selera.
Maka suasana menjadi cair. Obrolan mengalir tanpa sekat. Sesekali terdengar tawa. Sesekali serius. Tetapi semuanya sarat isi. Sarat ilmu.
Turut hadir dalam pertemuan itu Sekretaris DPD PAN Kota Tasikmalaya, Bagas Suryono. Politisi senior yang kini duduk sebagai anggota DPRD Kota Tasikmalaya Komisi IV itu ikut larut dalam diskusi.
Topik yang dibahas tidak jauh dari masa depan anak muda. Dan di situlah Budi Mahmud banyak memberikan pandangan.
Menurutnya, zaman sudah berubah. Anak muda tidak cukup hanya menjadi penonton. Mereka harus hadir menjadi pelaku. Harus berani berkreasi. Harus mampu melahirkan inovasi.
Harus siap mengambil peran dalam kehidupan sosial maupun politik. “Sudah waktunya anak muda berdaya dan maju. Jangan hanya mengomentari keadaan. Tetapi ikut menciptakan perubahan,” ujarnya.
Baca Juga:BM PAN Kota Tasikmalaya Konsolidasi Struktur, Terus Fokus Bidik Energi Baru dari Generasi MudaNilai TKA Matematika 100 Bermunculan di Tasikmalaya, Yayasan TMNI Buka Apresiasi untuk Siswa Berprestasi
Budi melihat masih banyak anak muda yang memiliki energi besar tetapi belum menemukan ruang yang tepat untuk menyalurkannya.
Karena itu ia mendorong agar ruang-ruang diskursus terus diperbanyak. Diskusi harus hidup. Pertukaran gagasan harus terus dilakukan.
Tetapi diskusi tidak boleh berhenti menjadi bahan obrolan. Harus ada implementasi. Harus ada aksi nyata yang dirasakan masyarakat.
Menurutnya, generasi muda perlu mulai mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang semakin kompleks. Mereka harus dibiasakan berpikir kritis. Mampu membaca persoalan.
