Tetapi kemarin, citranya bertambah satu lapis. Intelektual. Itu penting dalam politik hari ini. Sebab publik mulai bosan pada politisi yang hanya pandai berteriak di podium tetapi miskin gagasan.
Gelar akademik memang bukan jaminan kepemimpinan. Namun publik tetap melihatnya sebagai proses panjang: disiplin, ketekunan, dan kemampuan berpikir. Karena itu banyak yang datang bukan hanya memberi selamat. Tetapi membaca sinyal.
Di Tasikmalaya, gelar akademik masih memiliki tempat terhormat. Apalagi jika diraih oleh politisi aktif. Publik melihatnya sebagai kebanggaan daerah.
Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Mulai Bangun Gedung Laboratorium dan Perpustakaan SBSN 2026Kemana Larinya PAD Karang Resik Kota Tasikmalaya?
Namun di balik semua kemeriahan itu, ada hal lain yang diam-diam menarik. Usman tampak tidak banyak bicara. Ia lebih sering tersenyum. Menyalami satu per satu tamu. Sesekali merangkul kolega. Beberapa kali terlihat menunduk hormat kepada guru besar dan para dosennya.
Barangkali ia tahu, perjalanan menuju doktor tidak singkat. Ada malam-malam panjang membaca referensi. Ada revisi demi revisi. Ada tekanan waktu di tengah kesibukan politik dan aktivitas kedewanan.
Karena itu kemarin bukan sekadar seremoni. Itu pelunasan. Pelunasan atas lelah bertahun-tahun. Dan politik, seperti biasa, langsung menangkap pesan itu.
Sebab di negeri ini, gelar doktor tidak hanya dibaca sebagai capaian akademik. Kadang ia juga dibaca sebagai investasi masa depan. (red)
