Meski koleksi trofinya cukup banyak, hubungan Ibrahimovic dengan Guardiola perlahan memburuk.
Striker bertubuh jangkung itu merasa tidak mendapat perlakuan yang layak dan mulai frustrasi dengan perubahan taktik tim.
Dalam autobiografinya, Ibrahimovic bahkan pernah melontarkan kritik tajam kepada Guardiola dengan kalimat terkenal: “Anda membeli Ferrari tetapi mengendarainya seperti Fiat.”
Baca Juga:Moratti Dukung Langkah Inter Datangkan Nico Paz: Sarankan Lautaro dan Barella Dikontrak Seumur HidupMedia Italia Ramal AC Milan Akan Jual Strahinja Pavlovic
Puncak masalah muncul ketika Messi meminta bermain lebih sentral dalam skema Barcelona.
Guardiola kemudian mengubah peran Ibrahimovic menjadi lebih melebar, posisi yang tidak disukai sang striker.
Perubahan tersebut berdampak langsung terhadap performanya. Kontribusi Ibrahimovic mulai menurun pada paruh kedua musim karena ia merasa tidak lagi menjadi pusat permainan tim.
Selain persoalan taktik, Ibrahimovic juga tidak cocok dengan kultur disiplin Barcelona yang dianggap terlalu membatasi kebebasannya.
Salah satu aturan yang paling membuatnya kesal adalah larangan membawa mobil sport mewah ke tempat latihan.
Karakter Ibrahimovic yang keras dan penuh percaya diri membuatnya sulit beradaptasi dengan sistem Barcelona yang sangat terstruktur di bawah Guardiola.
Situasi itu akhirnya membuat kebersamaan Ibrahimovic dan Barcelona berumur pendek.
Hanya setahun setelah didatangkan dengan biaya fantastis, ia memutuskan hengkang dan melanjutkan kariernya di AC Milan.
Baca Juga:Revolusi Spalletti di Juventus: Depak 4 Pemain, Minta Tambahan 3 Punggawa BaruJuventus Ngebet Pulangkan Sandro Tonali, Newcastle Pasang Harga Selangit
Sementara itu, keputusan Inter melepas Ibrahimovic justru menjadi langkah yang mengubah sejarah klub.
Bersama Samuel Eto’o, Wesley Sneijder, dan Diego Milito, Nerazzurri sukses meraih treble winners pada musim 2009/2010 di bawah asuhan Jose Mourinho.
Karena itulah, Moratti menganggap transfer Ibrahimovic ke Barcelona tetap menjadi salah satu kisah paling menarik dalam sejarah modern sepak bola Eropa: transfer besar yang terlihat menjanjikan, tetapi akhirnya gagal karena benturan ego, taktik, dan kepribadian besar di satu ruang ganti.
