Ia menegaskan, kehadiran negara tak boleh berhenti di baliho dan jargon. Harus terasa hingga ke gang-gang, tempat kasus sering bermula—dan sayangnya, sering terlambat ditangani.
“Ketika mendengar, melihat, atau mengalami, masyarakat harus tahu ke mana mengadu. Itu yang kami pastikan,” pungkasnya.
Perluasan edukasi ini menjadi sinyal: penanganan kekerasan di Tasikmalaya mulai bergeser. Dari reaktif ke preventif. Dari pusat ke akar rumput. Tinggal konsistensinya—apakah akan terus menyala, atau kembali redup seperti program musiman. (ayu sabrina barokah)
