Dua Dunia BPKAD Kota Tasikmalaya!

keterlambatan pencairan TPP ASN Kota Tasikmalaya
Ilustrasi dua dunia BPKAD Kota Tasikmalaya. ChatGPT
0 Komentar

Ada kalimat paling satir dari pesan itu. Katanya begini: “Kadang terasa, di satu kota itu hanya ada dua OPD utama: BPKAD dan Setda. Yang lain hanya figuran.”

Saya tersenyum saat membaca kalimat itu. Bukan karena lucu. Tapi karena kalimat seperti itu biasanya lahir dari kelelahan panjang. Dari antrean yang terlalu lama. Dari pintu yang terlalu sering tertutup.

Padahal di atas kertas, semua OPD itu sama. Semua ASN itu satu keluarga. Minimal, begitu yang tertulis di slogan.

Baca Juga:Dua Pimpinan PAC PPP Kota Tasikmalaya Itu Masih Hidup, Tapi Namanya Sudah Hilang!Pesan di Apel Pagi "Sebagian Sudah Cair" Soal TPP Reguler ASN Kota Tasikmalaya Bikin Gaduh

Tapi dalam praktik, selalu ada tempat yang terasa seperti pusat matahari. Yang lain hanya planet yang mengelilinginya.

Dan seperti tata surya, planet-planet itu tidak pernah berani protes. Takut keluar dari orbit. Takut terseret gravitasi.

Di sisi lain, penjelasan dari Kepala BPKAD Kota Tasikmalaya, Tedi Setiadi terdengar normatif. Tidak ada pilih kasih, katanya.

Semua sesuai mekanisme. Yang lengkap duluan, cair duluan. Kalimat itu benar secara prosedur. Tapi belum tentu menenangkan secara psikologis.

Karena di dunia ASN, rasa adil tidak selalu diukur dari aturan. Sering kali diukur dari waktu cair di rekening.

Kalau tetangga meja sudah bunyi notifikasi, sementara HP sendiri tetap sunyi, rasa adil langsung terasa mahal.

Penjelasan serupa datang dari Kepala Bidang Pembendaharaan dan Kas Daerah BPKAD, Teni Nurhayati.

Baca Juga:Vitamin Politik dari H Syarif Hidayat untuk Ketua DPD PAN kota Tasikmalaya: Jangan Setengah HatiBesok Rabu Uji Coba ASN di Kota Tasikmalaya ke Kantor Naik Sepeda, Jalan Kaki atau Kendaraan Listrik 

Katanya, memang tidak pernah serentak. Memang tiap bulan begitu. Memang tergantung verifikasi.

Secara administrasi, itu masuk akal. Tapi secara komunikasi, itu terasa seperti jawaban lama untuk kegelisahan baru. Karena yang membuat gaduh sebenarnya bukan soal uangnya. Tapi soal informasinya.

Saya jadi teringat satu prinsip lama dalam birokrasi: Kadang masalah bukan karena sistem lambat. Tapi karena penjelasan datang terlambat.

Kalimat “sebagian sudah cair” mestinya diikuti kalimat kedua:“Sisanya akan cair tanggal sekian.” Kalau itu disampaikan, mungkin riaknya tidak sebesar ini.

Karena manusia bisa menunggu. Asal tahu sampai kapan. Ada angka yang disebut. Sekitar Rp13 miliar kewajiban TPP tersebut. Angka itu besar. Tapi yang lebih besar sebenarnya adalah rasa penasaran.

0 Komentar