TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya mendengar keluhan itu malam hari. Lewat pesan panjang. Tanpa tanda tangan. Tapi bahasanya jujur. Terasa seperti orang yang sudah lama menahan napas.
Soal SPM dan SPP. Katanya, tiap bulan selalu ada drama yang sama. Bukan karena administrasi OPD tidak siap. Justru sebaliknya—administrasi sudah lengkap. Sudah rapi. Sudah disusun seperti bekal anak sekolah.
Tapi tetap saja tidak bisa di-upload. Kenapa? Karena pintunya belum dibuka. Pintu itu bernama SIPD. Kuncinya ada di BPKAD Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Dua Pimpinan PAC PPP Kota Tasikmalaya Itu Masih Hidup, Tapi Namanya Sudah Hilang!Pesan di Apel Pagi "Sebagian Sudah Cair" Soal TPP Reguler ASN Kota Tasikmalaya Bikin Gaduh
Maka OPD hanya bisa menunggu. Duduk manis. Seperti tamu di ruang tunggu yang tidak pernah dipanggil.
Padahal sering kali, kata si pengirim pesan, OPD sudah siap lebih dulu. Bahkan kadang administrasinya sudah selesai sebelum kopi di meja BPKAD dingin.
Tapi kalau sistem belum dibuka, ya selesai sudah. Mau doa semalam suntuk juga percuma. Kalau diibaratkan, itu seperti sudah punya tiket kereta, tapi relnya belum dipasang.
Yang menarik justru cerita berikutnya. Tentang rasa “iri halus”. Katanya, di kalangan ASN, ada istilah tidak resmi:
“Kalau mau hidup agak kinclong, masuklah ke BPKAD.”
Sepatunya terlihat lebih mengilap. Kendaraannya lebih wangi. Tasnya lebih tegak berdiri. Tentu saja itu mungkin hanya perasaan. Atau mungkin juga pengamatan.
Entahlah.
Yang jelas, OPD lain diminta efisiensi. Kata itu sekarang sedang populer. Hampir seperti jargon wajib di setiap rapat. Efisiensi di sini. Penghematan di sana.Tapi di tempat lain, justru terasa seperti tidak ikut diet.
Seolah ada dua dunia dalam satu Pemerintah Kota Tasikmalaya: dunia yang harus mengencangkan ikat pinggang, dan dunia yang tetap bisa menambah lubang sabuk.
Baca Juga:Vitamin Politik dari H Syarif Hidayat untuk Ketua DPD PAN kota Tasikmalaya: Jangan Setengah HatiBesok Rabu Uji Coba ASN di Kota Tasikmalaya ke Kantor Naik Sepeda, Jalan Kaki atau Kendaraan Listrik
Setiap ganti Wali Kota Tasikmalaya, cerita seperti ini selalu muncul lagi. Seperti lagu lama yang diputar ulang. Nadanya sama. Liriknya sama. Penyanyinya saja yang berbeda.
Tapi herannya, tidak pernah benar-benar selesai. Karena siapa pun tahu, di dalam sistem pemerintahan modern, yang memegang verifikasi adalah yang memegang irama.
Yang memegang sistem, memegang tempo. Yang memegang tempo, menentukan siapa yang jalan duluan. Dan siapa yang harus menunggu.
