Sampah 300 Ton per Hari, Z-Clean JBZ Sentil Kesadaran Anak Muda Kota Tasikmalaya

program Z-Clean JBZ Kota Tasikmalaya
Puluhan anak muda ikut aksi lingkungan Jabar Bergerak Zillenial (JBZ) di Kota Tasikmalaya, Sabtu (4/4/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Obrolan santai di kedai kopi kerap berakhir jadi wacana. Tapi Sabtu pagi (4/4/2026), di sudut Tawang, Kota Tasikmalaya, obrolan itu mencoba naik kelas—dari sekadar diskusi menjadi gerakan.

Bertempat di Notif Coffee, Jalan Noenoeng Tisnasaputra, program Z-Clean yang digagas Jabar Bergerak Zillenial (JBZ) Kota Tasikmalaya resmi dimulai.

Bukan seremoni, melainkan semacam “alarm halus” bagi generasi muda yang hidup di tengah produksi sampah kota yang sudah menyentuh angka mencemaskan: sekitar 300 ton per hari.

Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal

Angka yang, ironisnya, sering kalah ramai dari konten media sosial. Puluhan peserta yang hadir bukan sekadar datang untuk duduk manis.

Sejak pukul 09.00 WIB, mereka digiring masuk ke ruang berpikir yang cukup serius—mulai dari pengenalan Sustainable Development Goals (SDGs), permainan interaktif, hingga diskusi kelompok terarah (FGD). Santai di luar, tapi isinya cukup “menggugat” kebiasaan sehari-hari.

Ketua Pelaksana Z-Clean, Muhammad Abil Marahim Syabani, menyebut hari pertama ini memang difokuskan untuk membangun fondasi pemahaman.

Sebab, aksi tanpa kesadaran hanya akan berakhir jadi kegiatan seremonial—ramai di awal, redup di tengah jalan.

“Kami mulai dari isu nyata di Kota Tasikmalaya. Sampah 300 ton per hari itu bukan angka kecil. Ini tanggung jawab kita bersama. Lewat Z-Clean, kami ingin anak muda sadar bahwa sampah yang dihasilkan, ya harus dipikirkan juga ujungnya,” ujarnya.

Z-Clean bukan sekadar forum terbuka. Sebanyak 30 peserta yang terlibat telah melalui proses seleksi administrasi dan wawancara.

Usianya pun dibatasi, antara 17 hingga 24 tahun—usia produktif yang seringkali penuh energi, tapi kadang abai arah.

Baca Juga:Pintu Air Gunung Mindi Jadi Biang Banjir di Cilalang Kota Tasikmalaya, PUTR Bongkar Patok SampahSaat Mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diketuk- Ketuk!

Ketua JBZ Kota Tasikmalaya, Hadim Husnul Afandy, menegaskan bahwa program ini dirancang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan “sekali unggah, lalu hilang”.

“Ke depan ada pelatihan eco enzim, pengelolaan kompos, sampai aksi tanam pohon. Kami ingin ini berlanjut, bukan berhenti di diskusi,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, JBZ menggandeng sejumlah pihak seperti Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya, Perhutani, Rumah Eco Enzim dan Kompos, hingga komunitas lingkungan lokal.

0 Komentar