Kolaborasi ini jadi penting, agar gerakan tidak berhenti sebagai jargon—yang sering terdengar indah, tapi minim dampak.
Dari sisi peserta, responsnya cukup menggembirakan. Fatih Riza Muhammad, salah satu peserta, menyoroti kebiasaan sederhana yang sering diremehkan: memilah sampah dari rumah.
“Kita sering anggap sepele, padahal ini kunci. Kalau dari rumah sudah dipilah, beban di TPA bisa jauh berkurang,” terangnya.
Baca Juga:Yang Berpengalaman di Kota Tasikmalaya Berkumpul, yang Berkuasa Menghilang!Bertemu Para Mantan Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Akui Komunikasi Belum Ideal
Sementara itu, Hilma Amalia Putri melihat Z-Clean sebagai ruang bertemu antara kepedulian dan aksi nyata.
Bukan hanya belajar, tapi juga mencari “teman seperjuangan” di tengah isu lingkungan yang kerap dianggap bukan prioritas.
“Kita jadi sadar, kalau sampah tidak diolah dengan baik, justru jadi ancaman buat kita sendiri. Di sini kita bisa mulai bergerak bareng,” katanya.
Z-Clean mungkin masih langkah kecil. Tapi di Kota Tasikmalaya, yang tiap harinya “memproduksi masalah” bernama sampah, langkah kecil seperti ini terasa jauh lebih jujur dibanding sekadar wacana besar tanpa arah. (ayu sabrina barokah)
