Tak Terima Gelar Piala Afrika Diserahkan ke Maroko, Pelatih Senegal Pamer Piala bersama Tentara

Senegal
Pelatih  Senegal, Pape Thiaw  terlihat memegang trofi Piala Afrika sambil dikelilingi oleh personel militer. Foto: Tangkapan layar X
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Kontroversi besar mengguncang sepak bola Afrika dalam beberapa jam terakhir.

Keputusan Confederation of African Football (CAF) yang secara mengejutkan menyerahkan gelar Piala Afrika 2025 kepada Maroko memicu kemarahan luas di Senegal.

Situasi ini semakin memanas karena keputusan tersebut diambil dua bulan setelah final yang dramatis.

Baca Juga:Beppe Marotta Akui Inter Seperti Kelinci yang Diburu: Lebih Mudah Jadi PemburuDaftar Pemain Gratisan yang Diburu Juventus: dari Lewandowski hingga Spinazzola

Dalam laga puncak itu, Senegal hampir kalah di babak perpanjangan waktu dimana pertandingan diwarnai insiden besar yang kini menjadi sumber sengketa.

Salah satu momen krusial terjadi saat pemain Maroko, Brahim Díaz mendapatkan penalti yang justru gagal ia konversi menjadi gol.

Namun, polemik tidak berhenti di situ. Tim Senegal sempat meninggalkan lapangan selama sekitar 20 menit sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit.

Aksi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam proses banding yang berujung pada keputusan kontroversial CAF.

Awalnya, pengaduan dari pihak Maroko sempat ditolak oleh Komisi Disiplin CAF.

Namun, melalui jalur banding, Komisi Banding CAF justru membalikkan keputusan dan menetapkan Maroko sebagai juara meski kalah di babak adu penalti.

Putusan ini sontak memicu gelombang protes di Senegal yang merasa dirugikan untuk kedua kalinya.

Baca Juga:Keluarga Rafael Leao Tak Cocok dengan Tawaran Gaji dan Bonus Terbaru dari AC MilanTemui Jorge Mendes, Juventus Mulai Bergerak untuk Datangkan Bernardo Silva

Federasi Sepak Bola Senegal pun langsung bergerak cepat. Mereka resmi mengumumkan akan mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS) di Lausanne, Swiss.

Langkah ini diambil demi membatalkan keputusan CAF yang dianggap tidak adil.

Dalam pernyataan resminya, federasi mengecam keras putusan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan keadilan. Mereka menilai prinsip fair play telah diabaikan dalam proses pengambilan keputusan.

“Sebuah keputusan yang tidak adil. Kami akan membela hak sepak bola Senegal dengan semua cara hukum yang tersedia,” demikian pernyataan resmi federasi.

Untuk sementara waktu, trofi dan medali Piala Afrika masih berada di Dakar meski status juara kini menggantung sambil menunggu hasil proses hukum di CAS, yang diprediksi akan menjadi salah satu kasus paling kontroversial dalam sejarah sepak bola Afrika.

Kapten Senegal, Sadio Mané, turut meluapkan kekecewaannya melalui media sosial.

0 Komentar