Bedug Raksasa Masjid Agung Kota Tasikmalaya Robek Lagi, DKM Kini Harus Rogoh Kocek Sendiri

bedug raksasa Masjid Agung Kota Tasikmalaya rusak
Kondisi kerusakan bedug raksaka Masjid Agung Kota Tasikmalaya, Rabu (18/3/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ikon religi sekaligus kebanggaan warga, bedug raksasa di Masjid Agung Kota Tasikmalaya kembali “terluka”.

Kulit bedug pemegang rekor MURI itu robek di dua sisi, kiri dan kanan, diduga kuat akibat cuaca yang tak kenal kompromi.

Kerusakan ini bukan yang pertama. Tahun 2017, luka serupa pernah terjadi.

Bedanya, kala itu masih ada “tangan panjang” pemberi hibah yang sigap turun tangan.

Baca Juga:Mudik Gratis Pupuk Kujang, Pedagang Kecil Hemat Jutaan di Tengah Ongkos MahalPemancing Hilang di Kota Tasikmalaya Ditemukan, Sungai Ciwulan Tak Banyak Bicara

Kini? DKM harus putar otak sendiri—dan tentu, menyiapkan isi kantong.

Ukuran bedug yang tak biasa justru jadi soal utama.

Dengan panjang sekitar 4 meter dan diameter 2 meter, mencari kulit pengganti bukan perkara sederhana.

Bukan sekadar beli di pasar, tapi butuh kulit hewan berukuran jumbo—sekelas kerbau atau banteng berbobot lebih dari 2 ton.

Bendahara DKM Masjid Agung, Heri Hendriyana, mengakui kondisi ini.

Ia didampingi staf sekretariat DKM, Khoirul, menyebut komunikasi dengan pihak pemberi hibah kini sudah tak berjejak.

“Dulu ada klausul perbaikan. Waktu pertama rusak, langsung diganti. Sekarang komunikasinya sudah tidak ada, jadi kami harus inisiatif sendiri kalau kulitnya tersedia,” ujar Heri kepada wartawan, Rabu (18/3/2026).

DKM memastikan, kerusakan murni akibat faktor alam.

Panas matahari dan hujan jadi “duet maut” yang menggerus ketahanan kulit bedug.

“Tidak ada unsur kesengajaan atau perusakan,” kata Khoirul singkat.

Baca Juga:Judul Konser Berubah-ubah, Netizen Kota Tasikmalaya Kian Ramai MenyentilASN Kota Tasikmalaya “Ngadu” di Instagram, Kritik Fiskal Pemkot Kian Pedas

Meski tak lagi bisa ditabuh, bedug raksasa ini belum kehilangan daya tarik.

Justru, fungsinya sedikit bergeser—dari alat penanda waktu ibadah menjadi latar swafoto para jemaah, khususnya pendatang dari luar kota.

Bedug ini memang bukan benda biasa.

Dibuat oleh Empu Trimanto atau Triwiguno—ahli gamelan penerima penghargaan UNESCO—bedug ini dirakit dari kayu Bengkiray pilihan, dengan proses pengerjaan selama dua bulan oleh 16 pekerja.

Rekor MURI sebagai bedug terbesar di Indonesia pernah disematkan.

Ia juga punya riwayat perjalanan panjang—diarak keliling 10 kota, dari Lampung hingga Jakarta, sebelum akhirnya “berlabuh” di Kota Tasikmalaya pada 2007 sebagai hibah perusahaan rokok.

0 Komentar