TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Asa Pemerintah Kota Tasikmalaya menghidupkan lagi Bandara Wiriadinata belum padam. Keberadaan aset negara itu dinilai harus dimanfaatkan dan tidak boleh mubazir. Setidaknya, fasilitas tersebut diharapkan dapat memberi dampak positif bagi daerah.
Memutar kembali sejarahnya, landasan pacu pesawat di wilayah Cibeureum itu awalnya merupakan pangkalan TNI Angkatan Udara Wiriadinata, bukan bandara komersial.
Wacana membuka penerbangan sipil baru mengemuka saat Kota Tasikmalaya dipimpin Wali Kota Drs H Budi Budiman pada periode pertama. Gagasan itu mendapat dukungan dari Komandan Lanud saat itu, Indan Gilang Buldansyah—yang kini menjabat Waaspers Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) berpangkat Marsekal Madya. Ia menjabat sebagai Danlanud Wiriadinata pada 2012–2014.
Baca Juga:MUI Kota Tasikmalaya Kritik Sistem Tukar Uang Lebaran, Begini KatanyaSerap Aspirasi Warga Pagerageung, Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan Desa Cipacing
Perannya vital dalam mengkomunikasikan wacana tersebut ke Mabes TNI. Setelahnya, Indan digantikan Herdy Arief Budiyanto hingga tahun 2015. Saat itu, wacana pembukaan bandara komersial terus berkembang dan komunikasi dengan berbagai pihak dijalankan, terutama dengan TNI AU dan Kementerian Perhubungan.
Ketika tongkat komando Lanud Wiriadinata dipegang Rony Armanto pada 2015–2017, momen krusial terjadi. Pada 2016, pesawat ATR 72-500 milik maskapai Wings Air mendarat di Lanud Wiriadinata. Tepatnya pada Senin, 17 Oktober sekitar pukul 15.15.
Pendaratan itu menjadi pesawat komersial pertama yang mendarat di landasan Wiriadinata. Namun penerbangan tersebut masih sebatas uji coba untuk evaluasi. Saat itu, penerbangan komersial belum dibuka.
Landasan pacu Wiriadinata kala itu baru digunakan secara rutin oleh sekolah pilot. Maklum, panjang landasan masih sekitar 1.200 meter sehingga hanya cocok untuk pesawat latih.
Pilot Wings Air saat itu, Captain Isana Nur Ardi, mengaku tidak menemui kendala saat pendaratan. Namun ia menyebut panjang landasan idealnya mencapai 1.400 meter.
“Tambah 200 meter lagi supaya optimum,” ujarnya kala itu.
Fasilitas yang dimiliki Wiriadinata juga disebut cukup memadai. Meski demikian, ia berharap ada penambahan fasilitas navigasi VOR (Very High Frequency Omnidirectional Radio Range), yaitu sistem navigasi berbasis gelombang radio yang digunakan pesawat terbang.
Uji coba pendaratan tersebut disaksikan langsung oleh Wali Kota Tasikmalaya saat itu, Drs H Budi Budiman, bersama Danlanud Rony Armanto. Optimisme terhadap kehadiran bandara komersial pun semakin menguat.
