“Di Napoli ada tekanan berbeda. Ekspektasinya tinggi, dan gaya bermainnya pun tidak sama,” jelasnya.
Sebagai mantan pemain, Krol tahu betul bagaimana atmosfer di Napoli.
Ia pernah memperkuat klub tersebut pada periode 1980–1984, mencatat lebih dari 100 penampilan dan menjadi salah satu pilar pertahanan sebelum era kejayaan bersama Diego Maradona.
Meski tidak meraih scudetto saat itu, kontribusinya membantu Napoli berkembang menjadi kekuatan yang disegani di Italia.
Baca Juga:La Gazzetta: Fabregas Pake Jurus Bodo/Glimt untuk Kalahkan InterZazzaroni Bantah Serie A Liganya Marotta: Inter Kehilangan Dua Scudetto dalam Tiga Musim Terakhir
Krol dikenal sebagai bek elegan dengan visi bermain yang tenang, kualitas yang membuatnya tetap dihormati hingga kini.
Meski sudah lama meninggalkan Italia, hubungannya dengan kota Napoli pun tak pernah pudar.
“Saya selalu datang ke Napoli dan merasakan kasih sayang luar biasa dari para penggemar. Saya mencintai Napoli, kota ini akan selalu di hati saya,” tuturnya.
Menutup wawancara, Krol bahkan mengutip lirik lagu penyanyi Italia, Sal Da Vinci, yang populer di Festival Musik Sanremo.
“Selamanya ya, Napoli!” ucapnya penuh emosional.
Dengan mentalitas ala Conte dan kekuatan skuad yang kian lengkap, Napoli kini berada di jalur penting untuk mengunci tiket Liga Champions.
Seperti kata Krol, dengan Lukaku sebagai ujung tombak, Partenopei punya senjata untuk menuntaskan misi besar musim ini.
