Sejak kebakaran, sang anak belum kembali ke sekolah. Yadi sendiri mengalami luka melepuh dan bengkak akibat paparan panas api.
Harapannya sederhana: ada uluran tangan nyata agar keluarganya bisa kembali memiliki rumah yang aman.
Dengan penghasilan pas-pasan sebagai juru parkir, membangun dua rumah sekaligus jelas bukan perkara ringan.
Baca Juga:Sekretariat HMI Cabang Tasikmalaya Sempat Disegel, Kader Geram Hasil Pleno Tak Kunjung Datang Tiga Nama Lolos Jadi Calon Rektor Unsil 2026–2030: Aripin, Asep Suryana, dan Ade Rustiana
Di tengah penantian yang sunyi, perhatian datang dari Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya (PTT).
Organisasi sosial yang dipimpin Tjong Djoen Mien atau Ko Acong mendatangi lokasi kebakaran untuk melihat langsung kondisi rumah Yadi.
“Kami prihatin dengan musibah ini. Bantuan kami mungkin tidak mencukupi, tapi ini tanda kepedulian,” tutur Ko Acong.
Ko Candra, anggota PTT, menjelaskan informasi kebakaran diperoleh dari anggota dewan Kepler Sianturi, yang kemudian menghubungi mereka.
Selain itu, Yadi dikenal sebagai juru parkir di tempat usaha salah satu anggota PTT.
“Kami datang untuk melihat langsung dan membantu sebisa mungkin. Kebetulan Pak Yadi bekerja di tempat saya,” tambah Ko Candra.
Bantuan yang diberikan memang belum mampu menjawab kebutuhan besar untuk membangun kembali rumah yang hangus.
Baca Juga:Kota Tasikmalaya Jadi Panggung Adu Visi Bakal Calon Rektor Unsil, Senat Siapkan Saringan Musyawarah-VotingRSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Lebih Baik Disewakan daripada Jadi Museum karena Ventilator
Namun, kehadiran mereka setidaknya memberi isyarat bahwa Yadi dan keluarganya tidak sepenuhnya sendirian.
Kini, di atas puing rumahnya, Yadi masih menunggu. Menunggu proses pengajuan bantuan, menunggu kebijakan pemerintah, dan menunggu kemungkinan datangnya pertolongan lain.
Di Kota Tasikmalaya, musibah sering datang lebih cepat daripada bantuan permanen.
Lebih dari sekadar dinding dan atap, Yadi ingin memulihkan ruang aman bagi keluarganya—tempat anaknya bisa kembali belajar, dan subuh tak lagi diwarnai api, melainkan doa. (ayu sabrina barokah)
