“Kenyataannya, kami yang mencintai sepak bola lebih suka Piala Dunia digelar di tempat lain, bukan di Amerika Serikat. Tidak pada saat ini,” katanya.
Ia menyinggung meningkatnya serangan terhadap Ukraina yang disebutnya semakin luas dan mematikan.
Fonseca bahkan membagikan pengalaman pribadi: beberapa hari setelah membawa kakek-nenek istrinya ke Portugal demi keselamatan, rumah mereka di dekat Donetsk hancur total akibat serangan.
Baca Juga:Pelatih Bodo/Glimt Minta Inter Milan Tak Sibuk Cari Alasan kalau KalahLaporan Keuangan Juventus Dapat Nilai Merah: Laba Turun, Utang Naik Hampir Rp320 Miliar
“Tidak ada yang tersisa dari kota mereka. Situasinya semakin buruk sejak Trump kembali berkuasa dan menjanjikan perdamaian cepat. Kenyataannya justru sebaliknya. Ini mengerikan dan sulit diterima,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Fonseca mengungkapkan keinginannya suatu hari kembali bekerja di Ukraina.
Ia diketahui pernah melatih Shakhtar Donetsk dan memiliki kedekatan emosional dengan negara tersebut.
“Saya mencintai Kiev, saya mencintai Ukraina. Saya ingin kembali ke sana untuk bekerja, membantu negara ini, mengembangkan sepak bola yang punya potensi luar biasa,” ucapnya.
“Saya ingin melatih tim nasional atau kembali ke Shakhtar. Saya merasa, dalam satu sisi, harus membalas semua yang telah mereka berikan kepada saya,” pungkasnya.
Pernyataan Fonseca jelas bukan sekadar opini di dunia sepak bola saja.
Ia menempatkan olahraga sebagai bagian dari tanggung jawab moral global—dan tak segan menyebut apa yang ia anggap keliru sebagai sebuah aib.
