Dari sana lahir kesadaran bahwa seni hari ini tak cukup hanya dipentaskan, tapi juga harus dipikirkan ekosistemnya: ekonomi, teknologi, dan keberlanjutan.
Berbagai keraguan akhirnya dijawab dengan karya yang mendapat respons positif dari masyarakat.
Bagi DKKT, inilah pembuktian bahwa rumah besar kesenian tidak dibangun dari slogan, melainkan dari proses panjang adu ide dan kerja nyata.
Baca Juga:Warga Ciamis Berhak Bahagia, Usai PSGC Dipastikan Lolos ke Liga 2 Pegadaian!Polri Lawan Tengkulak Jagung dengan KUR dan Bulog, Harga Petani Dijaga Rp6.400 per Kilogram
Dan mungkin, suara curug Cimedang menjadi saksi bahwa seni Kota Tasikmalaya sedang mencari arah: antara tradisi, teknologi, dan tuntutan zaman. (rezza rizaldi)
