Warga Tambaksari Yoyo Sutarya (35) bahkan menyarankan Bupati Ciamis mencontoh cara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memanfaatkan media sosial.
“Misalnya menjelaskan kebijakan tahun ini dan tindaklanjunya dengan turun ke lapangan. Dengan begitu masyarakat Kabupaten Ciamis tahu dan mengawal bersama program Pemerintah Kabupaten Ciamis,” katanya.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Ciamis Achmad Yani membenarkan Bupati Ciamis memiliki akun media sosial pribadi.
Baca Juga:Estafet di Kota Santri, PMII Kota Tasikmalaya Selalu Tahu Diri!Yanto Oce Datang, Tasikmalaya Menghangat Lagi!
“Ya ada akun pribadinya, seperti di instagram @Herdiat Sunarya (memiliki pengikut 31,5 ribu, red),” ujarnya.
Terkait pengelolaan konten, ia menyebut ada tim khusus.
“Setahu saya ada tim khusus, akan tetapi kurang mengetahuinya orang-orang siapa saja,” katanya.
Di Kabupaten Pangandaran, media sosial Bupati Hj Citra Pitriyami dikelola oleh tim. Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Pangandaran Detty Marieta menjelaskan Bupati Pangandaran memiliki akun di TikTok, Facebook, dan Instagram, baik akun pribadi maupun akun resmi yang dikelola humas.
“Jadi kalau yang milik pribadi juga ada, itu dikelola oleh ibu (bupati), biasanya kalau live sama anaknya juga kan,” ujarnya.
Ia menyebut setidaknya enam orang mengelola tiga akun utama tersebut.
“Kalau untuk mengupload postingan baik itu Ig, Facebook, maupun TikTok, sepenuhnya dilakukan oleh tim,” katanya.
Salah seorang pengikut akun Citra Pitriyami di TikTok, Mela Indriyani (30), mengaku sering menonton siaran langsung sang bupati.
“Kalau di Tiktok sering, kalau media sosial lain jarang. Ya itu kalau menurut saya akun pribadi beliau,” ucapnya.
Namun ia menilai unggahan aktivitas di akun resmi masih jarang.
Baca Juga:Kabupaten Garut Bakal Jadi Tuan Rumah Porprov 2030Pasar Terbesar di Priangan Timur Pun Kini Menangis, Kadis Baru yang Ragu Terkena Debu!
“Kalau menurut saya sih sah-sah saja kalau live atau upload kegiatan sehari-sehari, terutama di akun pribadi, ya gapapa lah, yang jangan itu kalau live kehidupan pribadi di akun bupati,” ujarnya.
Beragam pandangan tersebut menunjukkan media sosial kepala daerah kini menjadi ruang tafsir publik yang sensitif. Bagi sebagian warga, ia menjadi simbol keterbukaan dan kedekatan, namun bagi yang lain masih dipandang sebagai etalase pencitraan yang belum sepenuhnya mencerminkan kinerja nyata pemerintahan. (ujg/ays/riz/den)
