Deden juga menyoroti pola kerja Dishub yang dinilai terlalu terfokus pada satu ruas jalan.
Ia menyindir konten, sosialisasi, dan pencitraan Dishub yang disebut-sebut hanya berkutat di Jalan KHZ Mustofa.
“Ini Kota Tasikmalaya, bukan Dishub HZ Mustofa. Namanya Dishub Kota Tasikmalaya, harusnya mengurus parkir se-Kota Tasikmalaya,” jelasnya.
Baca Juga:Refleksi Malam Tahun Baru di Kota Tasikmalaya: dari Keramaian HZ Mustofa Menuju Doa BersamaMalam Tahun Baru di Kota Tasikmalaya, Ribuan Pejalan Kaki Padati Jalur HZ MustofaÂ
Ia menilai, sosialisasi dan konten semata tidak cukup jika realitas di lapangan tidak berubah.
Menurutnya, Dishub seharusnya lebih dulu mengumpulkan seluruh juru parkir —baik yang sudah resmi maupun yang belum— untuk diberikan edukasi secara menyeluruh.
“Kalau koperasi Merah Putih saja bisa dikumpulkan dan diedukasi beberapa bab, masa juru parkir yang jelas-jelas bersentuhan langsung dengan masyarakat tidak bisa?” sindirnya.
Deden menekankan, edukasi menjadi kunci agar perubahan sistem parkir tidak sekadar mengganti skema, tetapi juga mengubah pola kerja yang telah berlangsung puluhan tahun.
“Juru parkir itu banyak yang sudah puluhan tahun hidup di jalan. Jangan harap pola lama berubah hanya dalam hitungan bulan tanpa edukasi,” katanya.
Lebih jauh, ia mendorong keterlibatan langsung Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan untuk memastikan kebijakan parkir tidak berhenti di laporan administratif.
Menurutnya, kepala daerah harus turun langsung ke lapangan melakukan Sidak (Inspeksi Mendadak) ke lapangan.
Baca Juga:Portal Parkir VIP Setda Kota Tasikmalaya Dibela Tokoh Masyarakat: Jangan Dipelintir Jadi Sekat dengan WargaKontraktor Terancam Tekor, DPRD Sebut Kas Pemkot Tasikmalaya Surplus tapi Pembayaran Tersendat
Jangan hanya duduk manis di ruangan ber-AC dan menerima laporan manis tanpa mengetajui kondisi lapangan.
“Pak Wali harus sidak sendiri, melihat langsung bagaimana kondisi di bawah. Jangan sampai yang diterima hanya laporan ABS, asal bapak senang,” sarannya.
Deden menegaskan, pembenahan parkir bukan soal konten, bukan pula soal seremonial program, melainkan keberanian membereskan persoalan dari akar.
Jika tidak, maka tiga program parkir hanya akan menjadi ramai di atas kertas, namun tetap bocor di jalanan.
“PAD diharapkan naik, maslahat diharapkan ada. Tapi kalau juru parkirnya saja tidak dibereskan, ya tetap saja parkir di tempat, kebocoran tetap berjalan,” pungkasnya. (rezza rizaldi)
