Beberapa waktu lalu, Stadion Wiradadaha digunakan untuk konser besar. Wili tak menolak. Tapi hatinya sedikit “nyaah”. Ia tahu, efek ribuan penonton yang menari dan berdiri di atas rumput berbeda jauh dari pijakan pemain sepak bola.
“Kalau sepatu bola itu ada gerigi, bekasnya kelihatan tapi cepat pulih. Tapi kalau diinjak ribuan orang dan panggung berat, pulihnya lama,” ujarnya dengan nada sabar.
Setelah konser usai, ia harus bekerja lebih keras: memupuk ulang, menambal yang botak, dan memastikan bola bisa menggelinding lagi.
Baca Juga:Masuk PNS Berprestasi Jabar, Dua ASN Kota Tasikmalaya Diuji Para Dosen Kampus TernamaKetua DPD Gerindra H Amir Mahpud Bersyukur Tokoh Jawa Barat Diangkat Jadi Wamendagri!
Setiap dua atau tiga minggu, Wili tetap melakukan peremajaan: memotong, menyiram, menanam ulang.
Ia masih ingat terakhir kali rumput itu benar-benar sempurna: Januari 2025. Setelah itu, padatnya jadwal pertandingan dan kegiatan lain membuat lapangan jarang beristirahat.
Namun ia tak pernah berhenti menjaga. Di tengah stadion yang terus berbenah, Wili adalah saksi paling jujur tentang bagaimana rumput hidup, tumbuh, dan sesekali “terluka”.
Ia bukan pemain, bukan pejabat, tapi tanpa tangannya, hijau Wiradadaha mungkin takkan pernah kembali segar setelah setiap musim yang melelahkan. (Ayu Sabrina)
