“Penggunaan bahan-bahan alami ini mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, yang seringkali menyebabkan kerusakan lingkungan dan kesehatan,” bebernya.
Meski pada awal transisi hasil panen padi organik belum menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan padi non-organik, petani tetap optimis.
Dibutuhkan sekitar dua hingga tiga kali panen untuk menghilangkan residu kimia di tanah, dan setelahnya hasil panen padi organik justru meningkat.
Baca Juga:Fauzian Faikal Siap Bawa Nafwa FC Salawu Gemilang di Festival Grassroots Tasik Raya Cup 3Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Sosialisasikan Perda Pedoman Pelayanan Kepemudaan: Dorong Optimalisasi Pemuda
“Sebagai contoh, pada perbandingan 100 bata lahan, padi organik menghasilkan 3-5 kwintal lebih banyak dibandingkan dengan padi non-organik, dengan hasil panen padi organik per hektare mencapai 9 ton, sedangkan padi non-organik hanya 8 ton,” ucapnya.
Peningkatan hasil panen ini juga diiringi dengan harga jual yang lebih baik. Padi organik dihargai sekitar Rp 9.000 per kilogram, sedangkan padi non-organik hanya Rp 7.000 per kilogram.
“Dengan harga yang lebih tinggi dan pengeluaran yang lebih rendah, pendapatan petani meningkat signifikan,” ucapnya, menjelaskan.
Dalam menjamin kualitas beras organik, para petani di Dusun Cikole Kulon juga telah mendapatkan sertifikasi pertanian organik dari Inofice pada tahun 2022.
Beras organik yang dihasilkan bahkan mendapat perhatian dari Wali Kota Jepang, yang menawarkan harga ekspor sebesar Rp 40.000 per kilogram.
Meskipun begitu, para petani lebih memilih untuk menikmati hasil pertanian ini di dalam negeri sebelum mengeksportnya. (riz)
