Sementara Inter, dengan pendekatan yang lebih realistis dan efisien, justru menunjukkan jalan keberhasilan.
“Pendekatan Milan seperti mengulang kesalahan yang sama dari tahun ke tahun, seolah menolak belajar dari pengalaman,” tulis Distaso.
“Padahal, contoh sukses sudah ada di seberang Navigli,” paparnya merujuk ke Inter.
Baca Juga:Cesc Fabregas Ungkap Alasan Menolak Saran Pelatih Legendaris AC Milan untuk Bermain Lebih BertahanSiapa Franco Mastantuono? Bintang Muda Argentina yang Diperebutkan AC Milan, Inter dan Juventus
Saat ini, Inter Milan berpeluang mengantongi pemasukan fantastis jika berhasil melangkah ke final Liga Champions jika berhasil menyingkirkan Barcelona di leg kedua nanti.
Berdasarkan laporan Calcio e Finanza, hingga babak ke semifinal, Inter sudah meraup total pendapatan 131,92 juta euro, atau sekitar Rp2,21 triliun jika dikonversi ke rupiah (dengan asumsi kurs Rp17.000 per euro).
Sebuah rekor pendapatan terbaru bagi klub yang membuktikan “American Style” tak cocok dengan Italia.
Apa yang dikatakan Ditaso juga senada dengan yang diungkapkkan oleh jurnalis Italia, Giuseppe Cruciani yang menyebut kekacauan AC Milan bukan soal taktik, tapi perebutan kekuasaan di level manajemen.
Dalam podcast Aria Fritta, ia menyebut para petinggi klub lebih sibuk bertahan di kursi jabatan ketimbang membangun visi.
Drama pemilihan direktur olahraga pun disebut seperti “konklaf Vatikan” yang berakhir tanpa hasil.
Seperti diketahui, Fabio Paratici batal bergabung dengan AC Milan karena masih terkena larangan FIFA hingga Juli.
Baca Juga:Giuseppe Cruciani: AC Milan Kacau Karena Petinggi Klub Sibuk Berebut KekuasaanJulio Baptista Sebut Fans Real Madrid Paling Rewel di Dunia: “Kami Dicemooh Saat Menang 4-0”
Mantan direktur Juventus itu kini dilaporkan telah menyepakati kepulangan ke Tottenham sebagai direktur teknis dan akan bekerja bersama CEO baru Spurs, Vinai Venkatesham, mulai musim panas ini.
Milan, kata Cruciani, kini kehilangan arah dan stabilitas yang semestinya dimiliki klub besar.
