Ngulisik Bikin Sirik

UNJUK RASA. Forum Pengusaha Odong-odong Tasikmalaya mendatangi Bale Kota Tasikmalaya Selasa Pagi (29/9).

BUNGURSARI – Sejumlah pengusaha odong-odong tayo mendatangi Bale Kota Tasikmalaya. Mereka menyampaikan kekecewaan atas respons pemerintah kota yang seolah pilih kasih terhadap angkutan pariwisata tersebut.

Aksi dimulai sekitar pukul 09.40 Selasa pagi (29/9). Mereka memadati area lintasan kendaraan dinas di kantor wali kota.

Massa berorasi. Setelah belasan menit tak ada respons, salah seorang demonstrans menyalakan musik dengan volume cukup tinggi.

Karena dianggap mengganggu jalannya rapat Gugus Tugas Covid-19 serta virtual meeting yang tengah berlangsung, petugas pengamanan yakni polisi dan Satpol PP mendatangi massa.

“Bapak bisa parkirkan kendaraannya di luar. Ini area perlintasan kendaraan,” ujar salah seorang petugas kepada demonstran.

Namun, massa bersikukuh ingin diterima langsung wali kota atau stakeholder terkait. Sampai sekitar pukul 10.00 mereka terlihat masih bersitegang dengan petugas keamanan. Kemudian, satu persatu odong-odong yang dibawa massa dipindahkan dari area lintasan kendaraan.

Beberapa perwakilan pun diminta masuk untuk mediasi dengan Satpol PP dan Polres Tasikmalaya Kota. Akhirnya, sekitar pukul 11.16, massa membubarkan diri karena belum mengantongi izin dari Gugus Tugas Covid-19 berkaitan kegiatan bersifat mengumpulkan massa.

“Karena ada prosedur yang terlewati, yakni permohonan ke gugus tugas kaitan pelaksanaan kegiatan penyampaian aspirasi ini,” ujar Kasatpol PP Kota Tasikmalaya H Buddy Rachman kepada Radar.

Menurutnya, di masa pandemic terdapat prosedur khusus saat masyarakat hendak berkegiatan yang berpotensi mengumpulkan orang banyak. Karena hal tersebut terlewati, demonstran disarankan membubarkan diri dengan tertib.

“Silakan tempuh, ada prosedur di masa pandemi. Layangkan permohonan sebagai dasar mereka supaya kegiatannya nanti mendapat pengamanan dari aparat,” ucap Buddy.

Sementara itu, Ketua Forum Pengusaha Odong-odong Tasikmalaya Hendra mengaku kecewa. Selama ini, mereka merasa di-pingpong ketika hendak menyampaikan aspirasi dalam memenuhi perizinan usahanya.

Padahal, Bus Ngulisik yang merupakan program bantuan dari Provinsi Jawa Barat, tidak jauh berbeda dengan odong-odong. Tetapi bisa melenggang dengan leluasa.

“Situasi ekonomi sedang begini. Kita itu, dari eks angkutan umum, pedesaan, dimodifikasi. Kami minta audiensi berkali-kali ke pemerintah, Polres, tapi responsnya tidak serius. DPRD saja yang responsif,” kata dia menceritakan.

Padahal, pihaknya hanya ingin mendapat izin berusaha angkutan pariwisata. Sayangnya, belum sempat menempuh izin, beberapa odong-odong milik anggota forum sudah ditahan pekan lalu.

“Beberapa unit anggota kami minggu lalu ditahan dengan alasan belum ada regulasinya. Lah, kita kan dari awal sudah minta dibuat aturannya dan kami siap ikuti segala teknis pengaturannya,” keluh Hendra.

“Sementara, Ngulisik dengan kita (odong-odong, Red) kan sama saja. Tidak ada perbedaan,” sambung dia.
Pihaknya menuntut adanya regulasi dan perizinan yang disamakan dengan Ngulisik.

Sebab, hal itu menjadi kecemburuan bagi para pengusaha odong-odong dikala kondisi ekonomi serba sulit. “Jadi ada asumsi odong-odong itu seolah buat kumuh, padahal kita spek sesuai standar.

Safety Insya Allah, kenyamanan juga,” keluh Hendra. (igi)Baca selengkapnya/berlangganan , disini

Be the first to comment on "Ngulisik Bikin Sirik"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: