Bangun Karakter Siswa, Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya Perkuat Tujuh KAIH

Disdikbud kabupaten tasikmalaya
Peserta didik tingkat SD Se-Kabupaten Tasikmalaya saat mengikuti KAIH di Singaparna, Rabu 4 November 2026 (DOKUMENTASIK DIADIKBUD KABUPATEN TASIKMALAYA)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pembentukan karakter anak tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di ruang kelas. Kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten di rumah dan lingkungan sekolah juga menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang disiplin dan mandiri.

Upaya tersebut dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya melalui Festival Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) di Gedung Graha Nanjung, Cintaraja, Kecamatan Singaparna, Rabu (4/11/2026).

Festival yang diikuti peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Tasikmalaya itu menjadi sarana pengenalan sekaligus praktik tujuh kebiasaan positif. Meliputi bangun pagi, rajin beribadah, rutin berolahraga, gemar belajar, bermasyarakat, makan makanan bergizi, dan tidur cepat.

Baca Juga:Puluhan Ribu Jemaah Larut dalam Tasikmalaya Bershalawat di Alun-Alun ManonjayaAnggota DPRD Iyam Maryani: Perkuat Pengawasan Anak, Kasus Gadis Bantarkalong Tasikmalaya Jadi Peringatan

Kegiatan dibuka Sekretaris Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya, Dede Martini, SAg MSi serta dihadiri Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Tasikmalaya, H. Dedi Kurniawan, ST MM dan jajaran pejabat di lingkungan Disdikbud.

Program tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dalam membangun fondasi karakter generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Sekretaris Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya, Dede Martini, mengatakan penerapan tujuh kebiasaan tersebut menyasar peserta didik secara bertahap sesuai jenjang pendidikan, mulai SD hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Program ini sebetulnya ada berjenjang, ada jenjang SD ada jenjang SMP. jadi penerapan 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat ini adalah merupakan program dari Kemendikdasmen sebetulnya jadi direalisasikan di satuan pendidikan berdasarkan jenjang yang tadi sudah ada jenjang SD dan SMP,” kata Dede Martini, Rabu (4/11/2026).

Ia menjelaskan, substansi tujuh kebiasaan itu sebenarnya sudah dekat dengan kehidupan anak-anak. Di wilayah pedesaan, misalnya, kebiasaan bangun pagi sudah terbentuk melalui aktivitas ibadah. Begitu pula olahraga yang kerap dilakukan saat anak membantu pekerjaan orang tua.

Sementara interaksi sosial dan pembentukan nilai kemasyarakatan juga berlangsung melalui kegiatan belajar di Madrasah Diniyah setelah anak menyelesaikan pendidikan formal.

Meski demikian, perkembangan teknologi menjadi salah satu tantangan dalam menjaga konsistensi kebiasaan tersebut. Penggunaan telepon genggam yang tidak terkontrol berpotensi mengganggu pola istirahat anak.

0 Komentar