PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Turunnya hujan belum serta-merta mengakhiri krisis air bersih di Kabupaten Pangandaran.
Warga di sejumlah wilayah masih bergantung pada pasokan air dari pemerintah dan berbagai lembaga karena sumber air belum kembali pulih setelah dihantam kemarau panjang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran pun masih melanjutkan distribusi air bersih. Hingga Senin (2/11/2026), total air yang telah disalurkan mencapai 5.235.194 liter.
Bantuan tersebut sudah menjangkau 10 kecamatan, 55 desa, dan 115 dusun.
Baca Juga:Data Bansos Belum Beres, Viman Temukan Warga Kota Tasikmalaya Belum Terdaftar Penerima BantuanJNE Perluas Pasar Industri Kreatif, Jadi Partner Logistik Pameran Seni Inklusif di Bandung
Sebanyak 15.242 kepala keluarga (KK) atau 43.764 jiwa tercatat telah menerima layanan distribusi air bersih melalui 296 kali penyaluran.
Angka tersebut menunjukkan persoalan kekeringan belum benar-benar selesai. Hujan yang sesekali turun rupanya belum cukup untuk mengisi kembali sumber-sumber air yang mengering.
Langit boleh mulai basah, tetapi kebutuhan air warga masih harus dipenuhi melalui distribusi bantuan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, mengatakan penanganan kekeringan melibatkan sejumlah instansi dan organisasi.
Di antaranya BPBD, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Palang Merah Indonesia (PMI), hingga Perumda Air Minum Tirta Prabawa Mukti.
“Tagana menjadi yang paling banyak melakukan distribusi air bersih dengan total 2.017.194 liter,” ujarnya.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Pangandaran telah menyalurkan 1.547.000 liter air bersih.
Kemudian PMI sebanyak 770.000 liter, BBWS 455.000 liter, dan Perumda Air Minum Tirta Prabawa Mukti sebanyak 446.000 liter.
Baca Juga:AHM Dorong Gaya Hidup Hijau, Anak Muda Diajak Kurangi Sampah ElektronikPayung Geulis Dikenalkan Sejak Dini, Ibu dan Anak Kompak Melukis di Sawarga Kota Tasikmalaya
Distribusi tersebut menyasar 10 kecamatan, yakni Cimerak, Cijulang, Parigi, Cigugur, Sidamulih, Pangandaran, Kalipucang, Padaherang, Mangunjaya, dan Langkaplancar.
Dodo menjelaskan, penyaluran air bersih terus dilakukan untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan sumber air bagi kebutuhan sehari-hari.
“Selama kemarau kita terus membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang mengalami keterbatasan sumber air,” katanya.
Ia mengakui, hujan yang sempat mengguyur beberapa waktu lalu belum memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan air.
Sebab, air hujan membutuhkan waktu untuk meresap ke dalam tanah dan mengisi kembali sumber-sumber air.
“Kalau masuk musim penghujan juga, harus menunggu dua sampai tiga minggu, bahkan satu bulan, sampai airnya meresap,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, distribusi air bersih masih menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak.
