Sesi kuliah berlangsung interaktif, para peserta tampak antusias. Mereka mencoba mengucapkan beberapa kata serta maknanya dan ungkapan yang dipelajari dalam bahasa Indonesia dan aktif bertanya tentang kesamaan serta perbedaan budaya Indonesia dan Thailand. Sejumlah kosakata, tradisi, dan cerita rakyat kedua negara ternyata memiliki kemiripan, sehingga pembelajaran terasa dekat dengan pengalaman mereka.
“Bahasa tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga jendela untuk memahami cara pandang suatu bangsa. Melalui kuliah tamu ini, kami ingin mahasiswa Thailand mengenal Indonesia secara lebih dekat dan terdorong untuk belajar bahasa Indonesia,” ujar Shinta
Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa
Di sela kunjungan, Shinta mewakili jurusan bahasa Indonesia FKIP Unsil menandatangani Implementation Arrangement (IA) yang dihadiri oleh wakil dekan Faculty of Humanities . Dokumen ini menjadi landasan pelaksanaan kerja sama di bidang kolaborasi dosen dan mahasiswa, pengajaran BIPA, penelitian bersama, publikasi ilmiah, dan kegiatan budaya.
Baca Juga:Beberapa Kali Gagal di Masa Lalu, Pemkot Tasikmalaya Jajaki Lagi Penerbangan Tasikmalaya-JakartaGen Z Makin Sulit Dinasehati? Orang Tua Punya Peran Penting
Perwakilan SWU menyambut baik kerja sama ini dan berharap kolaborasi ini membuka kesempatan lebih luas bagi mahasiswa dan dosen kedua universitas untuk saling belajar bahasa, budaya, dan keilmuan.
Melalui kegiatan ini, Jurusan Bahasa Indonesia FKIP menegaskan komitmennya untuk berperan dalam diplomasi bahasa dan budaya Indonesia di kancah global sekaligus memperkuat hubungan akademik Indonesia–Thailand.
“Kegiatan ini tidak berhenti di sini. Kami ingin kerja sama ini terus berlanjut dalam bentuk kolaborasi dosen dan mahasiswa, sehingga manfaatnya dirasakan kedua kampus,” ujar Shinta. (rls)
