Ia menjelaskan, pembelajaran berbasis STEAM memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir logis, menguji gagasan, melakukan percobaan, serta mengevaluasi hasil pekerjaan. Dalam proses tersebut, guru berperan sebagai pendamping yang memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki hasil temuannya.
“Bagi guru, sebetulnya bagaimana STEM ini dipakai untuk melatih nalar logika berpikir anak. Berikan ruang anak untuk salah, berikan ruang anak untuk bertanya,” ujarnya.
Menurut Wandi, pengalaman mencoba, mengevaluasi, dan mencari alternatif penyelesaian dapat melatih kemandirian, rasa ingin tahu, kreativitas, serta kemampuan siswa menghadapi persoalan. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari penguasaan materi, tetapi juga dari kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Baca Juga:Puluhan Ribu Jemaah Larut dalam Tasikmalaya Bershalawat di Alun-Alun ManonjayaAnggota DPRD Iyam Maryani: Perkuat Pengawasan Anak, Kasus Gadis Bantarkalong Tasikmalaya Jadi Peringatan
Ia menambahkan, Festival STEAM menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan, terutama pada aspek literasi, numerasi, dan karakter yang tercermin dalam rapor pendidikan.
Upaya tersebut perlu didukung peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan serta penerapan pembelajaran berbasis masalah di sekolah.
“Tujuan utamanya adalah bagaimana meningkatkan nilai rapor pendidikan dari sisi literasi, numerasi, dan karakter. Caranya dengan meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan dan mengimplementasikan proses pembelajaran berbasis masalah,” jelasnya.
Melalui pembelajaran berbasis masalah, siswa dilatih memahami persoalan, menganalisis informasi, mengolah data, melakukan pengukuran, menyusun perencanaan, hingga mempresentasikan hasil pekerjaan. Aktivitas tersebut menghubungkan kemampuan literasi dan numerasi dengan praktik pembelajaran yang lebih konkret.
Namun, penerapan STEAM tidak cukup hanya melalui kegiatan festival. Keberlanjutannya membutuhkan peningkatan kompetensi guru, dukungan sekolah, ketersediaan sarana pembelajaran, serta metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Festival STEAM Tasikmalaya 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan, di antaranya lomba berbagi praktik baik pembelajaran berbasis STEAM, pameran karya dan inovasi siswa, lokakarya dan talkshow inspiratif, eksperimen sains dan teknologi, serta apresiasi bagi guru dan siswa berprestasi.
“Rangkaian kegiatan itu dirancang untuk memberikan ruang bagi peserta didik dalam menunjukkan hasil karya, sekaligus mendorong para pendidik saling bertukar pengalaman mengenai penerapan pembelajaran inovatif,” pungkasnya. (obi)
