Taman juga punya fungsi sederhana: memberi ruang bagi jamaah untuk beristirahat, menikmati suasana, atau menunggu waktu salat. Masjid bukan hanya tempat orang datang untuk bersujud. Ia juga ruang perjumpaan masyarakat.
Sepuluh pohon itu akhirnya menjadi bagian dari wajah baru Masjid Agung. Meski begitu, ada satu persoalan yang menarik: mengapa kurma di sana sulit berbuah?
Kurma berasal dari lingkungan panas dan relatif kering. Sementara Tasikmalaya memiliki iklim tropis yang lembap dengan curah hujan cukup tinggi.
Baca Juga:Sehat Jasmani, Rohani dan Ekonomi di HUT Kota TasikmalayaUrusan Aset Perlu Dituntaskan, Dibahas Ikatan Purna Anggota DPRD Kota Tasikmalaya
Perbedaan lingkungan tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan dan pembentukan buah. Kurma juga memiliki pohon jantan dan betina, sehingga keberadaan pohon saja tidak otomatis menjamin panen.
Jadi, kalau kurma di pelataran masjid lebih sering menjadi penghias daripada penghasil buah, ada penjelasan biologisnya.
Tidak semua pohon yang ditanam harus menghasilkan buah untuk memiliki manfaat. Ada pohon yang menghasilkan keteduhan. Ada yang memperindah halaman. Ada pula yang mengingatkan orang pada tempat yang ingin dikunjungi.
Pohon kurma Masjid Agung mungkin termasuk golongan terakhir itu. Orang melihatnya, lalu teringat Madinah. Sebagian berfoto. Sebagian lainnya sekadar duduk menunggu azan.
Yang penting, jangan sampai tertukar antara sejarah dan suasana. Tahun 1888 adalah masa ketika Masjid Agung berdiri. Tahun 2000–2002 adalah masa ketika wajah modernnya dibentuk dan taman kurma menjadi bagian dari penataan pelataran.
Sejarah tidak harus dibuat lebih tua agar terasa berharga. Masjid Agung sudah memiliki sejarah panjangnya sendiri. Pohon kurma hanya menambahkan cerita baru.
Dan kadang-kadang, untuk memahami sebuah tempat, kita memang harus bisa membedakan mana yang lahir bersama sejarah, mana yang datang kemudian untuk mempercantiknya. Kurma itu bukan saksi kelahiran Masjid Agung. Ia saksi perubahan wajahnya. (red)
