Sebelum mengikuti ISEF, penguatan akses pasar UMKM Priangan Timur telah dilakukan melalui rangkaian Road to FESyar 2026. Marhaban Festival di Kota Banjar pada Februari melibatkan 42 UMKM dan mencatat omzet Rp129 juta.
Selanjutnya, kegiatan JAZIRAH (Jalinan Sinergi Ekonomi Syariah) Priangan Timur di Kabupaten Ciamis pada Juni melibatkan 79 UMKM, membukukan omzet Rp1,6 miliar, serta menghasilkan kesepakatan pembiayaan senilai Rp1,7 miliar.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan promosi dan penguatan jejaring ekonomi syariah dapat membuka ruang transaksi sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan akses pembiayaan.
Baca Juga:Honda Stylo 160 Bidik Gaya Hidup Komunitas, Riding Kini Berpadu Musik dan FashionMusim Hujan Segera Tiba, Pupuk Kujang Siapkan 98 Ribu Ton Pupuk Subsidi di Jabar
Tantangan berikutnya adalah memastikan peluang yang terbentuk mampu berlanjut menjadi pertumbuhan usaha.
Plt Kepala Perwakilan BI Tasikmalaya, Azhar Livaldly mengatakan, hasil keikutsertaan UMKM dalam ISEF akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah pengembangan selanjutnya.
Evaluasi mencakup hasil penjajakan bisnis selama ISEF, kebutuhan peningkatan kualitas produk, serta akses pembiayaan yang diperlukan pelaku usaha untuk mengembangkan kapasitas bisnisnya.
“Langkah ini diarahkan agar partisipasi dalam ISEF tidak berhenti pada promosi, tetapi berlanjut menjadi kemitraan usaha, peningkatan kapasitas produksi, dan perluasan pasar. Dengan demikian, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah diharapkan memberi kontribusi yang semakin nyata terhadap nilai tambah usaha dan kesejahteraan masyarakat Priangan Timur,” ujarnya.
Bagi UMKM Priangan Timur, lolos kurasi dan tampil di ajang nasional merupakan modal awal untuk memperluas pasar.
Ukuran keberhasilan berikutnya bukan sekadar seberapa banyak produk dilihat, melainkan seberapa jauh peluang tersebut berubah menjadi pesanan, kemitraan, dan pertumbuhan omzet yang berkelanjutan. (fitriah widayanti)
