Ia menyoroti persoalan sosial, termasuk kenakalan remaja dan fenomena geng motor, yang membutuhkan perhatian bersama.
Keluarga, perguruan tinggi, pesantren, lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah harus memperkuat edukasi serta pembinaan generasi muda.
Menurutnya, penanganan persoalan tersebut tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak.
Kolaborasi harus dibangun agar upaya pencegahan tidak berhenti pada imbauan, tetapi menyentuh akar persoalan.
Baca Juga:Lumiland Dadaha Resmi Dibuka, Wali Kota Tasik Bidik Efek Ekonomi dan Puluhan Ribu Siswa Bisa Masuk Gratis Ratusan Barista Kota Tasikmalaya Disertifikasi, Diuji Biar Kopi Enggak Cuma Modal Gaya
Yanto juga mendorong penguatan literasi ekonomi, pengembangan potensi budaya, serta promosi produk lokal melalui platform digital.
Di sisi lain, penggalian potensi PAD dinilai penting untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“FOSSMA harus mampu menghadirkan kegelisahan intelektual dalam bentuk gagasan dan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti. Tujuannya, mendorong Tasikmalaya menjadi kota yang lebih maju, sejahtera, dan religius,” menjadi pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya, KH Aminudin Mustomi, turut menjadi pemtarei menyampaikan bahwa Kota Tasikmalaya saat ini membutuhkan solusi nyata untuk mendorong kemajuan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa berbagai persoalan kota memerlukan keterlibatan banyak pihak.
Organisasi masyarakat, kalangan akademisi, tokoh agama, pelaku usaha, dan pemerintah perlu membangun sinergi yang tidak sebatas pertemuan atau pernyataan dukungan.
Melalui Musker ke-I, FOSSMA diharapkan mampu melahirkan program kerja yang realistis, terukur, dan berkelanjutan.
Baca Juga:Miras Masih Beredar di Kota Tasikmalaya Lewat COD, Belasan Botol Diselipkan dalam Tas RanselTelkomsel-PosDigi Bidik 200 Ribu Agen Pos Lewat Paket Sat Set
Kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, pesantren, pelaku usaha, serta masyarakat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat persatuan dan mendorong kemajuan daerah.
Namun, ukuran keberhasilan musyawarah pada akhirnya bukan terletak pada banyaknya gagasan yang disampaikan, melainkan pada seberapa jauh gagasan tersebut menjawab kebutuhan warga.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan forum yang ramai oleh pemikiran, tetapi juga kerja nyata yang hasilnya bisa dirasakan.
Jangan sampai solusi hanya menjadi tajuk musyawarah, sementara persoalan warga tetap berjalan tanpa penyelesaian. (ujang nandar)
