Soal Kasus Siswa SMAN 3 Tasikmalaya, Gubernur Jabar Minta Kepsek Jangan Ragu Bertindak

sman 3 tasikmalaya
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
0 Komentar

Ayah Korban, Budi Pardiana menuturkan bahwa anaknya mengalami penganiayaan dari banyak siswa. Sehingga istrinya mengamuk di warung tersebut.

“(Korban) dipukul dan ditampar bergiliran oleh sekitar 30 orang,” ucapnya.

Pihaknya pun menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus tersebut ke Polres Tasikmalaya Kota. Berikut melakukan visum sebagai dokumen pendukung laporan.

“Sudah bikin laporan dan juga visum,” ucapnya.

Baca Juga:Dugaan Bullying Siswa SMA di Kota Tasikmalaya, Sekolah Ungkap Awal Mula PerkaraBudaya Jadi Jalan UMKM Naik Kelas, IFG dan Jamkrindo Perkuat Akses Pembiayaan

Dia berharap laporan tersebut ditindaklanjuti sebagaimana mestinya oleh jajaran Sat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota.

Terkait kejadian itu, pihak sekolah juga sudah buka suara. Kepala SMAN 3 Tasikmalaya, Dra Elin Yuliani MPd, mengatakan persoalan tersebut bermula ketika seorang siswa kelas 10 melakukan pelanggaran di kelas. Aksi tersebut direkam oleh temannya dan diunggah ke akun TikTok pribadi. Video tersebut kemudian diketahui oleh kakak kelas mereka.

Menurut Elin, siswa kelas 10 itu selanjutnya dibawa ke ruang Bimbingan dan Konseling (BK) oleh para kakak kelasnya untuk mendapatkan pembinaan.

“Waktu dibawa ke BK, di akhir proses itu sudah diingatkan, jangan diselesaikan atau jangan dilanjutkan di luar,” kata Elin kepada wartawan, Senin (28/9/2026).

Namun, persoalan tersebut diduga berlanjut di luar sekolah. Pada Kamis (24/9/2026), saat siswa kelas 10 akan mengikuti kegiatan kemah di Brigif, korban disebut mendapat pesan melalui WhatsApp agar datang ke sebuah warung yang selama ini menjadi tempat berkumpul sejumlah siswa.

Terkait dugaan kekerasan, Elin menjelaskan pihak sekolah mendapatkan informasi bahwa korban merupakan satu-satunya siswa yang menjadi sasaran pemukulan. Berbeda dengan informasi awal yang disampaikan keluarga, bahwa kekerasan terhadap korban dilakukan secara bergiliran oleh sekitar 30 orang, pihak sekolah menyebut hanya enam siswa yang mengaku melakukan penamparan.

“Korban yang dipukul hanya satu orang. Yang ke sana itu tiga orang kelas 10, harusnya empat orang yang hadir,” katanya. (red)

0 Komentar