Ia mencontohkan kolaborasinya dengan sutradara sekaligus aktor Carlo Verdone.
Menurut De Laurentiis, prosesnya dimulai dari sebuah ide yang kemudian dikembangkan bersama hingga akhirnya diproduksi dan dipasarkan.
“Sekarang pun dengan Carlo Verdone kami berdiskusi, berangkat dari sebuah ide lalu mengembangkannya bersama. Siapa yang membiayai produknya? Saya. Siapa yang membuatnya? Kami. Siapa yang memasarkannya dan mendistribusikannya di Italia maupun luar negeri? Kami,” tutur De Laurentiis.
Kritik De Laurentiis tidak berhenti pada Cardinale. Ia juga menilai sepak bola Italia membutuhkan perubahan besar dalam cara klub menjalankan bisnis dan mengelola kompetisi.
Menurutnya, terlalu banyak aturan lama yang membuat perubahan sulit dilakukan.
Baca Juga:Jurnalis Italia: Juventus Tak Mampu Bersaing dengan AS Roma dan Inter MilanPelatih Irlandia Tabuh Genderang Perang Jelang Hadapi Israel
“Saya orang yang sangat bergairah. Kalau mengerjakan sesuatu, itu karena saya menikmatinya. Ada orang yang bermain golf, ada yang bermain tenis. Saya hanya punya satu fokus dalam pekerjaan saya. Itu mungkin membuat istri saya kesal, tetapi memang begitulah saya,” katanya.
De Laurentiis menilai setiap pembahasan di Lega Serie A pada dasarnya harus memiliki perspektif bisnis.
Jika sebuah sistem tidak berjalan dengan baik, menurutnya, harus ada keberanian untuk mengubahnya.
“Kalau ingin berbisnis, Anda harus mengubah sesuatu yang tidak berfungsi,” ujarnya.
Ia kemudian menyinggung sistem sepak bola Italia yang menurutnya masih dibebani regulasi lama.
“Di Italia, jangan sentuh apa pun. Ada undang-undang yang berasal dari tahun 1800-an. Ketika Anda membacanya dan melihat bagaimana aturan itu sudah diubah berkali-kali, Anda bahkan kesulitan memahaminya,” kata De Laurentiis.
De Laurentiis juga berbicara mengenai persoalan hak siar dan distribusi pendapatan sepak bola Italia.
Baca Juga:Donyell Malen Senang Adik Iparnya Lakoni Debut untuk AS Roma: "Bangga Padamu Bobba" Viktor Gyokeres Tak Ingin Jadi Cadangan Arsenal, Agen Hubungi AC Milan
Ia menyinggung DAZN yang tetap memperoleh pendapatan dari iklan meski jumlah penonton disebut mengalami perubahan dari tahun ke tahun.
Dari situ, ia mengajukan gagasan mengenai tanggung jawab klub-klub dengan basis penggemar terbesar terhadap keseluruhan ekosistem sepak bola Italia.
Menurut De Laurentiis, Juventus, AC Milan, Inter Milan, Napoli, dan AS Roma merupakan klub yang menjadi motor utama sepak bola Italia.
