“Kami telah berhasil memberikan kontribusi kepada dunia dalam banyak bidang, termasuk menghasilkan sejumlah penerima Nobel. Sayangnya, kami belum menemukan obat untuk kebodohan, ketidaktahuan, dan kemunafikan yang ditunjukkan oleh pelatih tim nasional Irlandia,” demikian pernyataan federasi tersebut.
Federasi Israel juga menggunakan pernyataan Hallgrímsson untuk membalas kritik tersebut.
Mereka menyebut tidak bermain “bersama” kebodohan, kemunafikan, dan kebodohan, melainkan “melawan” orang yang mereka tuduh mewakili sikap tersebut.
Baca Juga:Viktor Gyokeres Tak Ingin Jadi Cadangan Arsenal, Agen Hubungi AC MilanAmorim Minta Gelandang Kidal, AC Milan Bidik Endrick dari Real Madrid
Perseteruan verbal ini menambah panas suasana menjelang pertandingan yang sejak awal memang berada dalam sorotan.
Di tengah tekanan dan seruan boikot, Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) tetap memutuskan memenuhi kewajiban mereka di Nations League.
Pada Juli, anggota FAI memberikan dukungan terhadap keputusan untuk tetap memainkan pertandingan. Sebanyak 75 delegasi memilih mendukung, 32 menolak, dan tiga lainnya abstain.
Sebelumnya, lebih dari 160 atlet Irlandia ikut menyerukan agar timnas memboikot pertandingan melawan Israel.
Tekanan serupa juga datang dari kelompok kampanye dan sebagian pendukung sepak bola Irlandia.
FAI kemudian mengambil langkah untuk memindahkan pertandingan kandang melawan Israel dari Dublin ke TSC Arena di Bačka Topola, Serbia.
Laga tersebut akan dimainkan tanpa penonton karena alasan operasional serta keamanan.
Baca Juga:Juventus Buru Kiper asal Brasil, Disiapkan untuk Gantikan Kamil GrabaraDavide Frattesi Penyesalan Terbesar Inter di Bursa Transfer: Dilepas Murah, Jadi Mesin Gol Gattuso di Lazio
Untuk pertandingan 27 September, Israel akan menjamu Irlandia di Nagyerdei Stadion, Debrecen.
FAI juga memastikan tidak akan memfasilitasi akses suporter Irlandia ke stadion dalam kedua pertandingan tersebut.
UEFA sendiri menolak permintaan Irlandia untuk memisahkan kedua negara dalam undian kompetisi mendatang.
UEFA menyatakan keputusan tersebut dinilai berdasarkan sejumlah faktor, terutama risiko keamanan, dan kedua negara tidak dianggap memiliki konflik langsung yang menjadi dasar pemisahan.
Kini, Hallgrímsson dan para pemainnya menghadapi pertandingan yang sarat tekanan.
Di tengah kontroversi di luar lapangan, sang pelatih menegaskan satu hal: setelah keputusan untuk tetap bertanding diambil, skuad Irlandia akan berdiri bersama dan menghadapi pertandingan tersebut sebagai sebuah tim.
