Di Copa del Rey, mereka juga harus menelan kekalahan pahit di babak akhir setelah sebelumnya tampil menjanjikan.
Musim ini pun terasa kontras jika dibandingkan dengan keberhasilan mereka menjuarai La Liga 2020/2021.
Kini, performa inkonsisten dan kegagalan di momen krusial kembali menjadi cerita yang berulang.
Baca Juga:AC Milan Hasilkan Dana Segar Rp1,7 Triliun dari Penjualan Pemain3 Pemain Bergaji Tinggi di AC Milan Terancam Angkat Koper Jika Gagal Lolos ke Liga Champions
Lima Tahun Tanpa Trofi
Kegagalan ini menandai musim kelima berturut-turut Atletico tanpa gelar. Sebuah kondisi yang mengundang kritik, bahkan mengingatkan pada sindiran lama Jose Mourinho yang pernah menyebut “Zero gelar”.
Padahal, selama lebih dari satu dekade, Simeone telah membawa banyak kesuksesan bagi klub.
Di bawah kepemimpinannya, Atletico meraih dua gelar La Liga, dua Liga Europa, dua Piala Super UEFA, satu Copa del Rey, dan satu Piala Super Spanyol.
Mereka juga dua kali mencapai final Liga Champions pada 2014 dan 2016, meski gagal menjadi juara.
Namun, kesuksesan itu kini terasa semakin jauh. Dalam lima tahun terakhir, Atletico tak mampu menambah koleksi trofi mereka.
Ironisnya, klub telah menggelontorkan dana besar untuk memperkuat skuad. Dalam lima musim terakhir, total belanja bersih Atletico mencapai €590 juta atau sekitar Rp10,03 triliun.
Rinciannya: €230 juta (Rp3,91 triliun) pada musim 2025/2026, €188 juta (Rp3,20 triliun) pada 2024/2025, €56 juta (Rp952 miliar) pada 2023/2024, €30 juta (Rp510 miliar) pada 2022/2023, dan €86 juta (Rp1,46 triliun) pada 2021/2022.
Baca Juga:Daftar Pemain Muda Berkualitas yang Jadi Incaran Inter Milan: Dari Marco Palestra Hingga Nico PazTak Terima Digocek saat Latihan, Neymar Gampar Robinho Jr
Investasi besar ini belum mampu mengembalikan Atletico ke jalur juara, justru mempertegas jurang antara ambisi dan realita.
Akhir Sebuah Era?
Kontrak Simeone sebenarnya masih berlaku hingga 30 Juni 2027. Bahkan, klausul pelepasan dalam kontraknya telah direvisi untuk memperkuat posisinya di klub.
Namun, situasi saat ini memunculkan pertanyaan besar: apakah siklus kepemimpinannya telah mencapai titik akhir?
Selama 14 tahun, Simeone menjadi simbol identitas Atletico—keras, disiplin, dan penuh determinasi. Namun dalam dua laga terpenting musim ini, karakter tersebut justru tidak terlihat.
Arsenal melaju ke final dengan penuh keyakinan, sementara Atletico kembali tertinggal dalam momen krusial.
Sepak bola Eropa pun menyaksikan satu cerita klasik: kebangkitan tim baru dan mulai meredupnya era lama.
