Dalam praktik ijtihad, lanjutnya, Imam Syafi’i menekankan kehati-hatian, termasuk mendorong pelaksanaan hal-hal yang bersifat sunah dan menghindari perkara yang mendekati larangan.
“Jadi sejalan dengan kata-kata yang disampaikan Almaghfurllah KH Ishak Farid, yang ditulis oleh para alumninya, yang isinya diantaranya, berpegang kuatlah dalam prinsip, tapi tetap hargai pendapat orang lain,” tambah Irvan.
Ia menegaskan, kajian ini juga bertujuan memperkuat komitmen santri terhadap mazhab Syafi’i, tidak sekadar pengakuan, tetapi juga dalam metode berpikir dan praktiknya.
Baca Juga:Tingkatkan Kapasitas Instruktur Senam, Bidang Olahraga Disparpora Kabupaten Tasikmalaya Gelar PelatihanSerap Aspirasi Warga Tasikmalaya, Anggota DPRD Jabar Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan Desa
Sementara itu, KH M Cholil Nafis menekankan pentingnya memperluas wawasan keilmuan sebagaimana dilakukan para ulama terdahulu.
“Maka para santri Cintawana ini bisa mengikuti jejak para imam dan alim ulama ini tidak hanya belajar di satu tempat. Tetap dasarnya pesantren, tapi untuk belajar dan menyampaikan ilmunya bisa ke luar Tasikmalaya, ke daerah lain atau bahkan mengembara ke negara para imam besar,” ungkap Cholil.
Ia menegaskan, keluasan ilmu akan membentuk sikap bermazhab yang tidak sempit dan tidak mudah menyalahkan pihak lain.
“Jadi kalau kita semua punya ilmu dan wawasan yang banyak, maka tidak akan menjadikan mazhab sempit, jadi orang yang banyak ilmu dan wawasan tidak akan banyak menyalahkan. Kalau kita mempunyai wawasan dan ilmu pastinya tidak akan bingung untuk bermadzhab, bagi kami wajib bermazhab dan jangan sampai karena bermadzhab merasa paling benar,” tambah Cholil. (dik)
