TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kita sering melihat satu gejala yang menarik. Isu muncul—lalu disambut dengan emosi. Ketus. Geram. Bahkan defensif.
Padahal, isu itu bukan peluru. Ia lebih mirip alarm. Alarm tidak pernah datang tanpa sebab. Ia berbunyi karena ada sesuatu—entah api sungguhan, entah hanya asap tipis dari dapur. Tapi tetap saja, ada sebab.
Masalahnya, kita sering marah pada bunyi alarm. Bukan mencari sumber apinya. Begitu ada isu beredar, langsung muncul tudingan.
Baca Juga:Pertarungan di Ka’bah Hijau: Muda Melawan Tua, Masa Depan Dipertaruhkan!Puluhan Ribu Motor Listrik Disebut Siap Didistribusikan ke Tiap SPPG di Jabar, Harga Motor Rp 56,8 Juta
“Jangan karena kebutuhan berita, sesuatu yang belum jelas dijadikan headline.” Kalimat itu terdengar logis. Bahkan terasa benar.
Tidak semua kabar memang layak jadi berita utama. Tidak semua desas-desus pantas disiarkan luas. Tapi, menolak isu mentah-mentah juga bukan solusi. Sebab isu tidak pernah lahir dari ruang kosong.
Isu itu anak dari kegelisahan. Ia tumbuh dari jarak antara harapan dan kenyataan. Kadang benar. Kadang salah. Tapi hampir selalu ada sumbernya.
Karena itu, memaknai isu seharusnya bukan soal benar atau salah dulu. Melainkan soal memahami, kenapa isu itu lahir?
Dalam dunia komunikasi, isu itu seperti gejala awal penyakit. Kalau cepat dideteksi, bisa jadi obatnya ringan. Kalau diabaikan, bisa berubah jadi krisis.
Kita pasti teringat satu pelajaran penting dalam dunia public relations: isu bukan musuh. Ia justru bahan baku perbaikan. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Isu dianggap serangan. Isu dianggap negative campaign.
Padahal tidak semua isu adalah kampanye negatif. Tidak semua pertanyaan adalah tuduhan. Ada kalanya isu muncul karena niat meluruskan. Memberi pencerahan. Menjaga agar publik tidak tersesat oleh kabar setengah matang.
Baca Juga:Pasang Reklame di Garut, Warga Ciamis Tersengat ListrikDua Nama Menguat Jelang Musda PKB Kota Tasik, Arah DPP Jadi Penentu
Tapi mengapa sering disikapi reaktif. Mengapa langsung diasumsikan ada tendensi? Mungkin karena satu hal: takut citra terganggu.
Padahal citra bukan dirusak oleh isu. Citra dirusak oleh respons yang keliru terhadap isu. Sering kali, kerja keras yang sudah lama dibangun bisa runtuh hanya karena satu headline negatif.
Headline yang belum tentu benar. Headline yang bisa saja lahir dari miskomunikasi. Namun, justru di situlah pentingnya keterbukaan.
