Menjadi wartawan itu bukan sekadar datang, mencatat, lalu pulang. Ada yang lebih mahal dari sekadar berita: kepercayaan.
Dan kepercayaan itu dibangun bukan dari satu dua liputan. Tapi dari sikap yang konsisten. Dari cara berdiri. Dari cara meminta. Bahkan dari cara menolak.
Dulu, wartawan dikenal dengan satu hal: menjaga jarak. Bukan menjauh. Tapi tahu batas. Ia bisa akrab, tapi tidak larut. Bisa dekat, tapi tidak meminta. Bisa bercanda, tapi tetap menjaga marwah profesi.
Baca Juga:Dangdut Menyatukan yang Berbeda Usia! Curi Motor Rekan Kerja di Kota Tasikmalaya karena Terjerat Judi Slot
Hari ini, garis itu mulai kabur. Ada yang datang bukan lagi untuk mencari berita. Tapi mencari “sesuatu” di luar berita.
Receh. Tapi berbahaya. Karena sekali saja batas itu ditembus, maka yang runtuh bukan hanya satu orang. Tapi citra seluruh profesi.
Berita yang baik itu bukan yang paling cepat. Bukan juga yang paling ramai. Tapi yang paling bernilai. Yang memberi makna. Yang memberi arah. Yang membuat publik lebih paham, bukan lebih gaduh.
Wartawan seharusnya hadir untuk itu. Bukan mengetuk kaca mobil. Bukan mengulurkan tangan. Apalagi memaksa.
Etika dan adab—dua kata yang sering terdengar klasik. Padahal justru di situlah letak kekuatan wartawan. Karena di tengah dunia yang serba transaksional, profesi ini seharusnya tetap berdiri di sisi yang berbeda: independen.
Tidak bisa dibeli. Tidak bisa ditekan. Tidak juga bisa “diminta-minta”. Peristiwa kemarin seharusnya cukup. Cukup untuk jadi alarm.
Bahwa ada yang perlu dirapikan. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh wartawan itu sendiri. Karena kehormatan profesi tidak dijaga oleh organisasi.
Baca Juga:Anekdot KDM untuk Viman Alfarizi!Bantuan Bencana di Kota Tasikmalaya Terus Disalurkan, Data Korban Masih Dikejar
Tidak juga oleh pemerintah. Tapi oleh setiap individu yang menyebut dirinya: wartawan. Dan mungkin, mulai besok, ketika ada acara lagi. Yang diketuk bukan lagi kaca mobil. Tapi nurani sendiri. (red)
