Saat Mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diketuk- Ketuk!

kejadian mobil Wakil Wali Kota Tasikmalaya diketuk wartawan
Ilustrasi saat mobil kepala daerah diketuk wartawan. olah digital AI / chatGPT
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada yang berubah dari cara Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, menjalani hari-harinya sebagai pejabat.

Ia tetap Diky yang dulu. Yang pernah hidup di dunia hiburan. Yang akrab dengan kamera. Dan—yang lebih penting—akrab dengan wartawan.

Siang itu, ia datang ke sebuah acara. Tidak ada yang aneh. Tidak ada protokoler berlapis. Ia turun dari mobil dinasnya seperti biasa.

Baca Juga:Dangdut Menyatukan yang Berbeda Usia! Curi Motor Rekan Kerja di Kota Tasikmalaya karena Terjerat Judi Slot

Lalu matanya tertumbuk pada satu hal sederhana: tukang kopi keliling. Ia mendekat. Memesan. Bukan untuk dirinya sendiri. Untuk wartawan.

Itu kebiasaan lama. Barangkali refleks. Barangkali juga cara menjaga kedekatan. Secangkir kopi seringkali lebih ampuh daripada seribu kata sambutan.

Para wartawan yang biasa meliputnya tersenyum. Mereka tahu, Diky bukan tipe pejabat yang menjaga jarak. Ia masih “orang lama” yang sama.

Masalah justru datang di akhir. Saat semua selesai. Saat Diky hendak pulang. Saat kaki sudah masuk ke mobil dinasnya.

Tiba-tiba—Tok! Kaca mobil diketuk. Bukan oleh warga. Bukan pula oleh panitia. Seorang oknum wartawan. Permintaannya sederhana. Tapi terasa janggal: minta uang.

Diky sempat bertanya. Bukankah kopi tadi sudah dibayar? Jawabannya tidak berhenti di situ. Permintaan berubah: uang tunai.

Di titik itu, sesuatu dalam diri Diky terusik. Nada bicaranya naik. Wajahnya berubah. Emosi sempat menyala. Wajar.

Baca Juga:Anekdot KDM untuk Viman Alfarizi!Bantuan Bencana di Kota Tasikmalaya Terus Disalurkan, Data Korban Masih Dikejar

Karena ini bukan lagi soal kopi. Ini soal batas. Namun, Diky masih Diky. Ia tidak melanjutkan api itu. Ia padamkan sendiri. Ia memilih pergi. Meninggalkan satu peristiwa kecil. Tapi maknanya tidak kecil.

Di dunia jurnalistik, kedekatan dengan narasumber sering dianggap modal. Tapi kedekatan tanpa batas bisa berubah jadi jebakan.

Yang awalnya silaturahmi, bisa bergeser menjadi transaksi. Yang awalnya profesional, bisa tergelincir menjadi personal. Dan di situlah garis etika diuji.

Peristiwa ini seperti cermin kecil. Tidak retak. Tapi cukup untuk berkaca. Bagi siapa saja. Terutama bagi mereka yang setiap hari membawa nama “wartawan”. Karena berita bukan hanya soal apa yang ditulis. Tapi juga tentang bagaimana sikap dijaga.

0 Komentar