Konser Bertubi-tubi di Kota Tasikmalaya, Dompet Penyelenggara Menangis!

konser di kota tasikmalaya
ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Awal April ini, Kota Tasikmalaya seperti tak diberi jeda untuk bernapas. Panggung dibangun. Sound system berdentum. Lampu sorot menari-nari.

Lalu, panggung berikutnya menyusul. Dan menyusul lagi. Seperti lomba siapa paling cepat menggelar konser. Penonton? Terbelah. Itu masalahnya.

Saya membayangkan wajah para penyelenggara event musik di kota ini. Mereka tidak sedang berpesta. Mereka sedang berhitung. Dan hasil hitungannya: minus.

Baca Juga:SDM Kota Tasikmalaya Terendah (3): Siapa yang Harus Mulai Dulu?Empat Kantong di Musda Golkar!

Tidak menutup modal. Bahkan ada yang mulai menghitung utang. Menggelar konser itu bukan perkara sederhana. Sewa artis, panggung, keamanan, perizinan, promosi—semuanya mahal. Tapi ketika konser datang bertubi-tubi dalam waktu yang terlalu dekat, pasar menjadi jenuh.

Penonton harus memilih. Dan pilihan itu menyakitkan bagi sebagian penyelenggara. Tasikmalaya bukan Jakarta. Bukan pula Bandung. Daya beli dan jumlah penontonnya terbatas.

Kalau dalam satu bulan ada satu konser besar, itu masih wajar. Kalau dua, mulai berat. Kalau tiga atau lebih dalam waktu berdekatan? Itu bukan kompetisi lagi. Itu bunuh-bunuhan.

Para pelaku event mulai bersuara. Pelan, tapi penuh kekhawatiran. Mereka tidak minta disubsidi. Tidak juga minta dimanjakan. Mereka hanya ingin diatur. Ya, diatur. Sesuatu yang seringkali dihindari, justru kini diminta.

Mereka berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya hadir. Bukan sekadar pemberi izin. Tapi menjadi pengatur ritme. Menjadi dirigen dalam orkestra besar bernama industri event.

Idealnya, ada kalender event tahunan. Disusun rapi. Dibicarakan bersama. Siapa dapat bulan ini. Siapa bulan berikutnya. Agar tidak saling bertabrakan. Agar semua bisa hidup. Karena jika dibiarkan seperti sekarang, satu per satu penyelenggara bisa tumbang.

Kapok. Lalu pergi. Dan ketika mereka pergi, yang hilang bukan hanya konser. Tapi juga denyut ekonomi. Di balik satu konser, ada banyak yang ikut hidup.

Baca Juga:SDM Kota Tasikmalaya Terendah (2): Efek yang Tidak Terlihat, Tapi Terasa!KA Ciremai Tertahan Longsor di Jalur Maswati-Sasaksaat

Pedagang kaki lima. UMKM kuliner. Penyedia sound system. Pekerja panggung. Parkir. Hotel. Transportasi. Semua bergerak. Semua berputar. Itulah ekonomi riil yang sesungguhnya. Yang sering tidak terlihat dalam laporan tebal pemerintah.

Maka ini bukan sekadar soal musik. Ini soal ekosistem. Soal keberlanjutan. Soal keberanian pemerintah mengambil peran.

0 Komentar