TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Klaim bahwa keluhan masyarakat terkait persoalan sampah di Kota Tasikmalaya mulai berkurang menuai tanggapan kritis dari sejumlah pihak.
Aktivis lingkungan asal Kecamatan Tamansari, Agus Sofyan yang akrab disapa Jarwo, menilai kondisi di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan pernyataan tersebut.
Menurut Jarwo, berkurangnya keluhan bukan berarti persoalan sampah sudah benar-benar membaik.
Baca Juga:THS Terwujud di Kota Tasikmalaya: PNS Terima 50 Persen TPP, Cairnya Senin Bareng THR Guru dan PPPKSafari Ramadan di Kota Tasikmalaya Ajang “Belanja Aspirasi”, Viman-Diky Sambangi Masjid dan Ponpes
Ia justru melihat ada gejala kejenuhan di tengah masyarakat setelah berulang kali menyampaikan aspirasi namun merasa respons penanganannya berjalan lambat.
“Kalau keluhan dianggap berkurang, jangan-jangan bukan karena masalahnya selesai, tapi karena masyarakat sudah lelah bersuara,” ujar Jarwo, Rabu (11/3/2026).
Ia menilai pemerintah seharusnya tidak sekadar menunggu laporan warga. Dalam isu lingkungan, terutama pengelolaan sampah, pemerintah daerah dinilai perlu lebih aktif turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil yang dihadapi masyarakat.
“Pemerintah harus peka. Jangan hanya menunggu laporan. Persoalan sampah itu kelihatan di jalan, bukan hanya di meja laporan,” katanya.
Selain penanganan sampah, Jarwo juga menyoroti proyek instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir.
Proyek tersebut, menurutnya, perlu dievaluasi mengingat nilai anggarannya mencapai sekitar Rp3,6 miliar.
Ia meminta pemerintah membuka secara transparan kepada publik mengenai efektivitas pembangunan fasilitas tersebut.
Baca Juga:Toko Kasur di Padayungan Kota Tasikmalaya Kebakaran, Petugas Damkar Dobrak Pintu Besi untuk Jinakkan ApiJukir Nakal di Kota Tasikmalaya Disemprit UPTD Parkir, Setoran Tak Sesuai Target Siap-siap Diputus Kerja
“Saya meminta wali kota mengevaluasi proyek IPAL di TPA Ciangir. Dengan anggaran Rp3,6 miliar, publik wajar bertanya: sudah seefektif apa? Harus ada transparansi,” tegasnya.
Jarwo juga menyebut hingga kini masih ada keluhan warga terkait dugaan pencemaran air di sekitar kawasan TPA Ciangir.
Ia menilai air limbah dari lokasi pembuangan sampah tersebut diduga masih mengalir ke Sungai Cipajaran.
Karena itu, ia meminta pemerintah kota turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi sebenarnya.
“Kalau berbicara soal keluhan, sampai sekarang masyarakat masih menyampaikan dugaan pencemaran air. Air limbah dari TPA Ciangir diduga mengalir ke Sungai Cipajaran. Pemerintah sebaiknya turun langsung melihat apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Di sisi lain, sebagian warga mulai mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan sampah kota.
